Iklan

Di Balik Kilau, Ada Takut yang Mengemis”. Berlian dari Lidah Orang Yang Terlatih.

Minggu, 05 April 2026, 17.59 WIB Last Updated 2026-04-05T10:59:51Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Oleh: Toto Isanto DS


Di sebuah pesta yang gemerlap oleh cahaya dan basa-basi, ulang tahun sang permaisuri diperingati bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai panggung bagi kesetiaan, atau sesuatu yang menyerupainya. 


Di antara bunga-bunga mahal, tawa yang dilatih, dan doa-doa yang terasa hafal di luar kepala, hadir sebuah kado yang paling mencolok, "BERLIAN".


Dia tidak datang sebagai cinta, dia tidak lahir dari ketulusan, dia hadir sebagai bahasa lain dari ketakutan, takut dilupakan, takut terbuang, takut tak lagi dipandang.


Sang pemberi bukanlah pecinta, bukan pula sahabat sejati. Dia adalah penjilat, seorang yang memahami bahwa dalam istana, kejujuran seringkali kalah oleh kilau.


Dia tahu bahwa kata-kata bisa diabaikan, tetapi benda berharga jarang ditolak. Maka ia memilih berlian, bukan karena ia indah, tetapi karena ia efektif.


Berlian itu berkilau, ya. Dia memantulkan cahaya dari setiap sudut ruangan, seolah ingin berkata, "lihat aku, aku bernilai". Namun tak seorang pun benar-benar bertanya, "nilai bagi siapa..?, bagi permaisuri, atau bagi ambisi si pemberi.


Berlian, sejatinya adalah batu yang dipaksa menjadi berharga oleh tekanan dan waktu. Sama seperti si penjilat, yang menempa dirinya dalam tekanan kekuasaan, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi tulus.


Dia tidak lagi memberi karena ingin, tetapi karena harus, dan dia tidak lagi memuji karena kagum, tetapi karena perlu.


Dan sang permaisuri..?, dia mungkin tersenyum, menerima kado itu dengan anggun, seperti menerima seluruh dunia yang telah terbiasa berlutut di hadapannya. Namun jauh di dalam, mungkin ia tahu, bahwa berlian itu bukan persembahan, melainkan permohonan.


Permohonan agar tetap dilihat.

Permohonan agar tetap dekat.

Permohonan agar tidak dibuang ke pinggir sejarah yang dingin.


Tulisan ini bukan tentang berlian, ini tentang manusia yang kehilangan keberanian untuk jujur. Tentang dunia yang mengukur kesetiaan dari harga, bukan makna, tentang hubungan yang dibangun bukan di atas kepercayaan, melainkan kepentingan.


Sebab pada akhirnya, berlian bisa saja bertahan selamanya. Namun ketulusan yang hilang, tak akan pernah bisa dibeli kembali, bahkan dengan seluruh kilau di dunia.


Dan di pesta itu, di antara tepuk tangan yang terdengar megah, satu hal tetap sunyi, "bahwa tidak semua yang berkilau adalah cinta,

dan tidak semua yang memberi, benar-benar setia".

Komentar

Tampilkan

Terkini