• Jelajahi

    Copyright © Garda Media
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Dari Bumi Sri Gemilang ke Panggung Nasional: Dua Kader GMNI Inhil Ukir Sejarah di DPP. Mereka Mengalirkan Spirit Marhaenisme dari Daerah ke Pusat.

    Sabtu, 17 Januari 2026, 07.28 WIB Last Updated 2026-01-17T00:28:32Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

     


    Jakarta — Di sebuah ruang yang dipenuhi semangat pengabdian dan cita-cita kebangsaan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) resmi mengukuhkan jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) periode 2025–2028.


    Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Sujahri Somar dan Sekretaris Jenderal Amir Mahfut, prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026), mengusung tema luhur, “Reposisi GMNI: Kembali Meneguhkan Spirit Marhaenisme.”


    Momentum tersebut menjadi hari yang bersejarah bagi Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau. Dua putra terbaik daerah, Satria Pratama JP yang akrab disapa Bung Jepek, dan Rio Febriansyah yang dikenal sebagai Bung Rio, resmi dipercaya mengemban amanah nasional.


    Bung Jepek dikukuhkan sebagai Kepala Badan Pers, Media, dan Publikasi DPP GMNI, sementara Bung Rio dipercaya sebagai Ketua DPP GMNI Bidang Sosial dan Kesehatan untuk masa bakti 2025–2028.


    Untuk pertama kalinya, kader GMNI asal Inhil menembus struktur pusat dan mengambil peran strategis dalam menggerakkan arah organisasi di tingkat nasional. Sebuah bukti bahwa dedikasi, ketekunan, dan konsistensi kaderisasi dari daerah mampu menjelma menjadi kekuatan yang diperhitungkan.


    Keduanya dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam pengabdian organisasi. Militansi kaderisasi, kepekaan sosial, serta kesetiaan pada nilai-nilai marhaenisme menjadi fondasi yang mengantarkan mereka pada amanah besar ini. Lebih dari sekadar jabatan, tanggung jawab ini adalah panggilan perjuangan.


    Tema pengukuhan "Reposisi GMNI Kembali Meneguhkan Spirit Marhaenisme" menjelma sebagai kompas moral bagi perjalanan organisasi ke depan. Marhaenisme kembali ditegaskan bukan sebagai romantika sejarah, melainkan sebagai ruh perjuangan yang hidup, yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam menghadapi kompleksitas zaman.


    Reposisi organisasi dimaknai sebagai ikhtiar memperkuat jati diri, menata struktur, mengokohkan ideologi, serta menajamkan keberpihakan kepada kaum marhaen dan rakyat kecil. Dalam dunia yang kerap bising oleh kepentingan, GMNI ingin kembali berdiri jernih, berpihak kepada mereka yang paling membutuhkan suara.


    Melalui kepengurusan baru ini, DPP GMNI diharapkan mampu menghadirkan kerja-kerja organisasi yang lebih progresif, responsif, dan membumi, bukan hanya lantang dalam gagasan, tetapi nyata dalam pengabdian.


    Pengukuhan ini sekaligus menjadi penanda dimulainya babak baru perjuangan. Sebuah tanggung jawab kolektif bagi seluruh pengurus DPP GMNI periode 2025–2028 untuk terus merawat persatuan, menjaga nilai-nilai luhur perjuangan, serta memastikan spirit marhaenisme tetap hidup di setiap langkah organisasi—bersama rakyat, untuk rakyat.(Thonk)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini