Oleh : Toto Isanto DS :
PPPK Paruh Waktu yang (Tidak) Dirindukan.
"Puisi Sunyi di Bulan Ramadhan"
Di bulan yang seharusnya penuh cahaya, ada hati yang tetap berjalan dalam senyap. Ramadhan datang seperti biasa, masjid ramai oleh doa, pasar dipenuhi harapan, anak-anak menunggu hari kemenangan.
Namun di sudut-sudut kantor pemerintah, ada langkah-langkah sunyi yang tetap bekerja. Mereka datang pagi seperti biasa, membuka pintu pelayanan, menyapa masyarakat dengan senyum yang kadang harus dipaksakan.
Mereka adalah para pengabdi yang lama berdiri di lorong-lorong birokrasi negeri. Namanya kini PPPK Paruh Waktu, sebuah istilah yang terdengar resmi, tetapi terasa sepi di hati.
Sebab di balik kata “paruh”, tersimpan banyak harapan yang tak utuh.
Ramadhan ini, sebagian orang mulai menghitung THR, mengatur rencana pulang kampung, membeli baju baru untuk anak-anak.
Namun bagi mereka, Ramadhan berjalan seperti hari biasa. Tak ada kabar tentang THR, tak ada tambahan yang bisa dibawa pulang
untuk menggembirakan keluarga.
Yang ada hanya gaji yang tetap sama, dan harapan yang tetap disimpan diam-diam.
Di meja pelayanan, mereka tetap bekerja seperti biasa, mengurus berkas masyarakat, menandatangani dokumen, menjawab pertanyaan warga.
Padahal di dalam hati, ada satu pertanyaan yang terus berulang, "Apakah pengabdian juga punya batas nilai..?".
Negeri ini berdiri di atas kerja banyak tangan, bukan hanya mereka yang terlihat di panggung, tetapi juga mereka yang bekerja dalam diam.
Para guru honorer di ruang kelas sederhana, tenaga administrasi di kantor pelayanan, petugas yang memastikan urusan rakyat tetap
berjalan.
Mereka tidak meminta lebih, hanya berharap dipandang dengan adil. Tetapi Ramadhan kali ini kembali mengajarkan satu hal, "bahwa pengabdian terkadang harus belajar menerima
ketika perhatian negara belum sampai".
PPPK Paruh Waktu, sebuah nama yang terdengar modern, tetapi di hati sebagian orang
terasa seperti janji yang belum selesai.
Dan ketika tak ada THR di bulan kemenangan, yang tersisa hanyalah doa-doa sederhana, "Semoga suatu hari nanti, negara tidak hanya mengingat pengabdian mereka dalam laporan dan peraturan, tetapi juga dalam rasa keadilan. Sebab bagi para pengabdi yang bekerja dalam diam, kebahagiaan sering kali bukan soal besar
kecilnya angka. Kadang cukup satu hal saja, Merasa dihargai sepenuhnya".
