Oleh : Toto Isanto DS
Masjid Milik Umat, Bukan Tempat Protokoler Kekuasaan. Sesungguhnya Memuliakan Jamaah Lebih Baik, Daripada Mengistimewakan Pejabat di Rumah Allah.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sepakat bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan sosok yang harus diperlakukan secara berlebihan. Prinsip ini juga semestinya berlaku ketika seorang pejabat atau pemimpin daerah hadir di rumah ibadah, khususnya di masjid.
Masjid pada hakikatnya adalah rumah Allah yang hidup dari keikhlasan para jamaahnya. Jamaahlah yang setiap hari menjaga, memakmurkan, dan membiayai operasional masjid, dari listrik, air, hingga pembangunan dan perawatannya. Oleh karena itu, yang semestinya dimuliakan dan dihormati adalah jamaah yang istiqamah memakmurkan masjid, bukan pejabat yang datang sesekali.
Sudah menjadi pemandangan yang kerap terjadi, ketika seorang pejabat datang ke masjid, segala bentuk protokoler langsung berubah. Penyambutan berlebihan, kursi khusus di barisan depan, hingga pengumuman panjang tentang kedatangannya. Seolah-olah rumah ibadah berubah menjadi panggung kekuasaan.
Padahal, di hadapan Allah, semua manusia sejatinya sama. Tidak ada kursi kehormatan bagi jabatan, tidak ada keistimewaan bagi kekuasaan, yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Tidak jarang pula, kehadiran para pejabat ini dibarengi dengan pemberian bantuan atau sumbangan dalam jumlah tertentu. Namun masyarakat juga semakin cerdas memahami bahwa sebagian besar dana tersebut berasal dari uang rakyat melalui anggaran negara atau daerah, bukan dari kantong pribadi.
Ironisnya, menjelang akhir masa jabatan atau mendekati momentum politik, frekuensi kunjungan ke masjid sering kali justru meningkat. Rumah ibadah yang seharusnya menjadi tempat ibadah dan refleksi spiritual, terkadang berubah menjadi ruang pencitraan politik.
Di sana kita sering menyaksikan bagaimana seorang kandidat atau pejabat mulai merendahkan diri, memohon dukungan, bahkan memberikan bantuan demi memperoleh simpati jamaah. Tidak sedikit yang tampil seakan-akan dirinya adalah sosok paling layak untuk dipilih.
Namun masyarakat dan jamaah masjid sesungguhnya memiliki kearifan sendiri dalam menilai. Mereka tahu membedakan mana yang tulus beribadah, dan mana yang sekadar hadir karena kepentingan politik.
Karena itu, sudah sepatutnya kita mengembalikan marwah masjid pada tempatnya. Masjid bukan arena politik praktis, bukan pula panggung pencitraan kekuasaan. Masjid adalah tempat sujud, tempat persaudaraan, dan tempat umat mencari ketenangan spiritual.
Yang patut dimuliakan adalah para jamaah yang istiqamah memakmurkan masjid. Yang patut dihormati adalah para ulama, para aulia, dan para guru agama yang menjaga cahaya ilmu dan akhlak di tengah masyarakat.
Pemimpin yang baik tentu tetap disambut dengan hormat sebagai tamu. Namun penghormatan itu tidak perlu berlebihan hingga melampaui esensi kesederhanaan yang diajarkan oleh Islam.
Sebab pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan yang disandangnya, tetapi oleh ketulusan hatinya dalam mengabdi kepada umat dan kepada Allah SWT.
