Iklan

𝑱𝒆𝒋𝒂𝒌 𝑼𝒍𝒂𝒎𝒂 𝑻𝒂𝒌 𝑩𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑯𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈, 𝑨𝒏𝒔𝒐𝒓-𝑩𝒂𝒏𝒔𝒆𝒓 𝑰𝒏𝒉𝒊𝒍 𝒁𝒊𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒌𝒆 𝑴𝒂𝒌𝒂𝒎 𝑻𝒖𝒂𝒏 𝑮𝒖𝒓𝒖 𝑺𝒂𝒑𝒂𝒕

Senin, 31 Agustus 2026, 18.53 WIB Last Updated 2026-08-31T11:53:26Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. INDRAGIRI HILIR, 𝟑𝟏 𝑨𝒈𝒖𝒔𝒕𝒖𝒔 𝟐𝟎𝟐𝟔 — Tradisi tidak boleh berhenti menjadi ritual, ia harus menjadi jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan nilai, perjuangan dan keteladanan para pendahulu.


Pesan itulah yang tercermin dalam kegiatan ziarah Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Indragiri Hilir bersama Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ke makam ulama besar Indragiri Hilir, Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari atau yang masyhur dengan sebutan Tuan Guru Sapat, di Dusun Hidayat, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuala Indragiri, Minggu (30/8/2026).


Bagi Ansor-Banser Inhil, ziarah tersebut bukan sekadar perjalanan menuju makam seorang ulama. Lebih dari itu, menjadi bagian dari ikhtiar merawat tradisi keislaman, memperkuat kecintaan kepada ulama sekaligus menggali kembali nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.


Setibanya di kompleks makam, rombongan melaksanakan pembacaan Yasin, tahlil dan doa bersama. Suasana khidmat menjadi ruang refleksi bagi para kader untuk mengenang perjalanan dakwah serta pengabdian Tuan Guru Sapat dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat Indragiri.


Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari dikenal sebagai salah satu ulama besar yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan Islam di wilayah Indragiri. Beliau juga dikenal sebagai Mufti Kerajaan Indragiri serta meninggalkan sejumlah karya keilmuan yang hingga kini masih menjadi bagian dari khazanah keislaman. Jejak perjuangannya menjadikan makam Tuan Guru Sapat bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga ruang sejarah yang mengingatkan generasi sekarang bahwa kemajuan kehidupan keagamaan tidak lahir secara tiba-tiba. Ada ilmu, pengorbanan, ketekunan dan keikhlasan para ulama yang mendahuluinya.


Ketua PC GP Ansor Kabupaten Indragiri Hilir, Muhammad Suyuti, S.Pd.I, menegaskan bahwa generasi muda, khususnya kader Nahdlatul Ulama, harus memiliki kesadaran sejarah dan kedekatan dengan para ulama.


“Ziarah ini menjadi momentum bagi kita untuk mengenang perjuangan Tuan Guru Sapat. Beliau adalah ulama yang memiliki jasa besar dalam dakwah dan perkembangan Islam di Indragiri Hilir. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan beliau dengan menjaga agama, menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.


Menurutnya, perjuangan ulama pada masa lalu harus diterjemahkan dalam bentuk pengabdian yang relevan dengan tantangan zaman.

Kader muda tidak cukup hanya memahami sejarah, tetapi harus mampu mengambil nilai dari sejarah tersebut untuk menjawab persoalan masyarakat hari ini.


“Jangan sampai generasi muda kehilangan sejarah dan keteladanan para ulama. Dari makam para ulama kita belajar tentang ilmu, keikhlasan, perjuangan dan pengabdian,” tambah Muhammad Suyuti.


Ia menegaskan, Ansor dan Banser Inhil akan terus menjaga tradisi ziarah dan silaturahmi kepada ulama sebagai bagian dari pembentukan karakter kader. Sebab, organisasi kepemudaan tidak hanya membutuhkan kader yang kuat secara organisasi, tetapi juga kader yang memiliki akar spiritual, kepedulian sosial dan komitmen kebangsaan.


Ziarah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas Ansor dan Banser tidak boleh berhenti pada agenda internal organisasi. Kehadiran kader harus dirasakan masyarakat melalui kerja nyata, menjaga persatuan, membangun kepedulian dan memberikan manfaat bagi umat serta daerah.


Kompleks makam Syekh Abdurrahman Siddiq di Sapat sendiri telah lama menjadi salah satu kawasan religi penting di Kabupaten Indragiri Hilir. Para peziarah datang dari berbagai daerah untuk mengenang sosok ulama yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah perkembangan Islam di kawasan Indragiri.


Bagi Ansor-Banser Inhil, merawat tradisi berarti menjaga mata rantai sejarah. Menghormati ulama berarti menjaga arah perjuangan, dan mengabdi kepada masyarakat merupakan bentuk nyata meneruskan nilai yang telah diwariskan para pendahulu. Karena itu, semangat Tuan Guru Sapat diharapkan tidak berhenti di kompleks makam. Dia harus hidup dalam sikap, gerakan dan pengabdian generasi muda hari ini.


Ansor Bergerak, Banser Siap Mengabdi. Merawat Tradisi, Menjaga Ulama, Mengabdi untuk Umat dan Negeri. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌)

Komentar

Tampilkan

Terkini