๐๐๐ซ๐๐๐ฆ๐๐๐ข๐.๐๐จ.๐ข๐. TEMBILAHAN, 31 Agustus 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Masjid Al-Mu’awanah, Jalan Tanjung Harapan, Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan Kota, menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mengajak umat menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang digelar Ahad malam Senin, 30 Agustus 2026, selepas salat Isya hingga selesai tersebut menghadirkan Buya H. Abu Bakar Siddiq, Pimpinan Pondok Pesantren H. Abdul Karim Syauib Guguak Randah, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi, sebagai penceramah.
Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M, H. Ahmad Sazli, S.Sos., M.Si., menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah dan masyarakat yang telah hadir serta ikut menyukseskan peringatan Maulid.
"๐ฐ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ฝ๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ฐ๐. ๐ฐ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
Menurut H. Ahmad Sazli, peringatan Maulid merupakan kesempatan untuk memperkuat silaturahmi sekaligus menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.
"๐บ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐. ๐ฐ๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ฑ๐๐ข๐ ๐ท. ๐ฐ๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐-๐๐๐๐."
H. Ahmad Sazli berharap momentum Maulid Nabi mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan jamaah. Ia juga menyampaikan bahwa masjid memiliki peran strategis dalam membangun kebersamaan masyarakat.
“Masjid bukan hanya tempat kita melaksanakan ibadah, tetapi juga tempat kita memperkuat ukhuwah, menyatukan hati dan membangun kebersamaan. Jangan karena perbedaan kita terpecah, karena Rasulullah mengajarkan umatnya untuk hidup dalam persaudaraan.”
"๐ผ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐, ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐. ๐น๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐. ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐ ๐ฝ๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐. ๐ผ๐๐๐๐-๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ๐๐๐," ๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐.
Dalam tausiahnya, Buya H. Abu Bakar Siddiq menegaskan bahwa Maulid Nabi tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan melihat sejauh mana umat mampu meneladani akhlak Rasulullah.
"๐บ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐-๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐..?"
Menurut Buya, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, shalawat maupun kemeriahan peringatan. Kecintaan tersebut harus tercermin melalui perilaku, terutama dalam menjaga kejujuran, amanah, persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.
“Kalau kita mengatakan cinta kepada Rasulullah, maka akhlaknya harus menjadi cermin kehidupan kita. Jangan sampai lisan kita banyak bershalawat, tetapi hati masih dipenuhi kebencian, iri dan permusuhan.”
"๐บ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐. ๐น๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐. ๐ฑ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐. ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ข๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐."
Dalam tausiah nya, beliau juga menekankan pentingnya amanah dalam kehidupan. Sebab, setiap manusia memiliki tanggung jawab sesuai dengan posisi dan perannya masing-masing.
"๐น๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐. ๐น๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐."
Menutup tausiahnya, Buya H. Abu Bakar Siddiq kembali mengajak jamaah agar menjadikan Maulid sebagai momentum perubahan.
"๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐."
Pesan tersebut menjadi benang merah peringatan Maulid di Masjid Al-Mu’awanah, "๐ผ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
Maulid Nabi bukanlah sekadar gema yang kembali terdengar setiap tahun, melainkan panggilan sunyi yang mengetuk pintu hati manusia. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari riuh dunia, menundukkan kepala, lalu bertanya kepada jiwa, "๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐...?" Sebab, mengenang Rasulullah bukan hanya menoleh kepada masa yang telah pergi, dia adalah cahaya yang kita bawa menuju hari esok.
Dalam setiap langkah, biarlah akhlaknya menjadi kompas, dalam setiap kata, kejujurannya menjadi suara, dan dalam setiap perbedaan, kasih sayangnya menjadi jembatan. Karena Rasulullah bukan hanya untuk dikenang dalam sejarah, tetapi untuk dihidupkan dalam jiwa. Dan Maulid bukan hanya tentang kelahiran seorang Nabi, melainkan tentang kelahiran kembali hati manusia yang ingin berjalan menuju cahaya. (๐๐ก๐จ๐ง๐ค-๐๐ก๐จ๐ง๐ค ๐๐ฅ๐ฎ๐๐ฌ)
