πππ§πππ’ππππ.ππ€.ππ. TEMBILAHAN, π· πππππππππ πΈπΆπΈπΌ — Ketika tanah mulai merindukan basah dan langit terlalu lama menyimpan hujan, manusia hanya mampu menengadah, meminta kepada Yang Maha Kuasa agar rahmat kembali jatuh ke bumi.
Di tengah musim kemarau yang masih membentang, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menggelar Salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan, Selasa (1/9/2026) pagi. Lapangan Kantor Bupati Indragiri Hilir menjadi ruang tempat doa-doa dipanjatkan. Sejak sekitar pukul 06.00 WIB, masyarakat mulai memenuhi hamparan lapangan. Pelaksana Harian (Plh) Bupati Indragiri Hilir, Yuliantini, turut hadir bersama unsur Forkopimda, alim ulama, jajaran pejabat pemerintah daerah, ASN, para siswa, serta masyarakat.
Pagi itu, pemerintah dan rakyat berdiri dalam satu saf. Tak ada jarak antara jabatan dan rakyat, sebab di hadapan langit yang sama-sama menunggu hujan, semuanya adalah manusia yang sedang mengetuk pintu pertolongan Tuhan.
Salat Istisqa menjadi ikhtiar bersama untuk memohon rahmat Allah SWT. Bukan semata tentang hujan yang turun dari langit, tetapi juga tentang kesadaran manusia untuk kembali menjaga bumi yang menjadi tempat berpijak.
Plh Bupati Indragiri Hilir, Yuliantini, mengatakan pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk doa dan ikhtiar bersama di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, terlebih dengan masih ditemukannya sejumlah titik api di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir.
“Melalui Salat Istisqa ini, kita bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan dan memberikan rahmat-Nya kepada Kabupaten Indragiri Hilir,” ujarnya.
Bagi Yuliantini, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah harapan bagi masyarakat, penyejuk bagi tanah, dan salah satu jalan untuk meredam ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat meluas ketika kemarau semakin panjang.
Namun, doa tidak boleh menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab. Karena itu, Yuliantini mengingatkan masyarakat agar bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Ia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan api.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Jangan pula melakukan pembakaran hutan maupun lahan. Pencegahan kebakaran merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Pesan itu menjadi bagian penting dari ikhtiar pagi tersebut, "πΌπππππππππ ππππππ ππππππ, πππππππππ πππππππππππ πππ πππππππ ππ πππππππ ππππ." Sebab ketika kemarau datang, manusia belajar bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam genggaman. Ada hujan yang tak bisa diperintah, ada angin yang tak bisa ditahan, dan ada langit yang hanya bisa diminta dengan doa.
Yuliantini berharap, ikhtiar yang dilakukan bersama tersebut segera dijawab dengan turunnya hujan yang membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir. Hujan diharapkan mampu mengurangi dampak kemarau sekaligus membantu meredam potensi kebakaran hutan dan lahan.
Salat Istisqa bukan hanya menjadi ritual meminta hujan, dia menjadi pengingat bahwa ketika langit menahan airnya, manusia harus belajar menahan tangannya dari merusak bumi. Dan ketika hujan belum juga turun, setidaknya pagi itu Inhil telah mengirimkan satu pesan kepada langit, "π±πππ π ππππ ππππππ ππππππππ, πππππππ ππππππ ππππππ, πππ πππππππ πππππ ππππππππππ πππππππ’π. (πππ€π£π )

