Tembilahan – Di balik riuh aktivitas kota kecil di pesisir Indragiri Hilir, ada satu nama yang pelan tapi konsisten menghidupkan warna seni lokal: Abdi Saputra, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Adikapeje. Bagi sebagian anak muda Tembilahan, nama ini bukan sekadar identitas, melainkan simbol semangat berkarya tanpa henti.
Abdi bukan seniman yang lahir dari panggung besar. Ia tumbuh dari lorong-lorong kecil kota, dari obrolan warung kopi, dari kegelisahan sosial, dari cinta terhadap kampung halaman. Justru dari kesederhanaan itulah karyanya menemukan kekuatan.
Bagi Adikapeje, seni bukan hanya soal estetika. Seni adalah bahasa. Bahasa untuk menyampaikan kegelisahan, kritik sosial, harapan, bahkan cinta terhadap kehidupan.
Lewat karya-karyanya, baik dalam bentuk tulisan, ekspresi visual, pertunjukan, maupun gagasan kreatif, ia sering menyelipkan pesan-pesan yang halus namun menggugah.
Ia percaya bahwa seniman memiliki tanggung jawab moral, bukan sekadar menghibur, tetapi juga menyadarkan. Karena itu, banyak karya Adikapeje yang lahir dari realitas sekitar, cerita rakyat yang mulai dilupakan, persoalan sosial yang jarang dibicarakan, hingga potret kehidupan masyarakat kecil.
Menjadi seniman di daerah bukan perkara mudah. Minim fasilitas, kurang ruang apresiasi, dan terbatasnya dukungan sering menjadi tembok besar. Namun justru di situlah karakter Abdi Saputra terbentuk, bertahan, bergerak, dan tetap berkarya.
Ia tak menunggu panggung megah. Ruang kecil pun bisa menjadi galeri. Audiens sedikit bukan alasan berhenti. Baginya, satu orang yang tersentuh oleh karya jauh lebih berarti daripada seribu tepuk tangan tanpa makna.
Nama “Adikapeje” bukan sekadar nama panggung. Ia adalah identitas kreatif yang mewakili perjalanan batin seorang seniman. Di balik nama itu ada proses panjang, belajar, jatuh, bangkit, ragu, lalu terus mencoba.
Mereka yang mengenalnya tahu bahwa Abdi bukan hanya berbicara tentang seni, tetapi hidup bersama seni. Dalam keseharian, dalam cara berpikir, dalam cara memandang manusia dan kehidupan.
Di saat banyak anak muda memilih pergi untuk dikenal, Abdi justru memilih bertahan untuk menyalakan cahaya di kotanya sendiri. Ia percaya bahwa Tembilahan tidak kekurangan bakat, yang kurang hanyalah ruang dan keberanian untuk memulai.
Melalui keterlibatan dalam komunitas, pergaulan kreatif, serta dukungan terhadap generasi muda, ia perlahan membangun ekosistem kecil yang penuh makna, tempat di mana seni tidak merasa asing di tanah sendiri.
Abdi Saputra, atau Adikapeje, bukan hanya tentang karya. Ia adalah representasi dari perlawanan terhadap lupa, perlawanan terhadap apatisme, dan perlawanan terhadap anggapan bahwa daerah tidak bisa melahirkan kualitas. (Thonk)
