Gardamedia.co.id, Tembilahan – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar rapat perdana pengurus baru pasca Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) yang digelar pada 8 Desember 2025 lalu. Rapat berlangsung di Sekretariat KONI Inhil, Jalan Telaga Biru, Minggu malam (25/01/2025), dan dihadiri Ketua serta seluruh jajaran pengurus yang telah mengantongi SK.
Rapat ini menjadi momentum awal bagi kepengurusan baru KONI Inhil periode 2025–2029 di bawah kepemimpinan Zainuddin Acang. Namun, lebih dari sekadar seremoni awal, publik kini menaruh harapan besar: apakah kepengurusan baru benar-benar membawa perubahan, atau justru mengulang pola lama yang minim prestasi?
Dalam arahannya, Acang menekankan pentingnya kekompakan internal dan etika organisasi.
“Saya berharap seluruh anggota KONI selalu menjaga kekompakan dan saling menghargai, agar organisasi yang kita jalankan ini berjalan dengan baik,” ujar Acang.
Pernyataan tersebut terdengar normatif, namun mencerminkan tantangan klasik yang kerap membayangi organisasi olahraga daerah: konflik internal, komunikasi yang lemah, serta tarik-menarik kepentingan.
Sorotan pada Lemahnya Basis Data Atlet
Acang secara terbuka mengakui bahwa persoalan mendasar yang harus segera dibenahi adalah ketiadaan data atlet dan cabang olahraga yang valid. Ia meminta seluruh Ketua Bidang segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap atlet dan cabor.
“Kita butuh data atlet secara valid. Juga perlu didata cabor yang aktif dan yang tidak aktif,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi indikasi bahwa selama ini tata kelola pembinaan olahraga di Inhil belum berbasis data yang kuat. Tanpa database atlet, pembinaan prestasi rawan berjalan tanpa arah, hanya bergantung pada momentum event tertentu, bukan program jangka panjang.
Padahal, pendataan atlet seharusnya menjadi pekerjaan dasar organisasi olahraga, bukan baru disadari setelah pergantian kepengurusan.
Acang berharap kepengurusan baru mampu meningkatkan prestasi olahraga daerah. Namun harapan tersebut kini dibebani oleh rekam jejak prestasi olahraga Inhil yang dinilai belum signifikan di tingkat provinsi.
“Tanpa dukungan seluruh pengurus dan cabor, mustahil target prestasi bisa dicapai,” ujarnya.
Pernyataan ini menyiratkan bahwa persoalan prestasi bukan hanya soal atlet, tetapi juga soal komitmen, integritas, dan keseriusan manajemen organisasi. Publik olahraga kini menunggu bukan hanya program di atas kertas, tetapi kerja nyata yang terukur.
Rapat perdana ini turut membahas rencana pelantikan pengurus KONI Inhil periode 2025–2029. Namun lebih dari pelantikan seremonial, masyarakat olahraga berharap ada peta jalan (roadmap) pembinaan atlet, transparansi program, serta keberanian mengevaluasi cabang olahraga yang stagnan.
Kepengurusan baru KONI Inhil kini berada di persimpangan, menjadi motor perubahan pembinaan olahraga daerah atau sekadar menjadi organisasi formal yang aktif dalam rapat, namun minim prestasi.
