masukkan script iklan disini
Oleh: Toto Isanto DS
Masih dengan tema yang sama, pola yang sama, strategi yang sama, been ahkan line-up yang dimainkan pun tidak pernah benar-benar berubah.
Hanya formasinya saja yang berganti, kadang 4-4-2, 4-2-3-1, 4-3-1-2, atau 4-3-2-1, namun substansinya tetap satu, "permainan lama yang terus dipertahankan.
Lantas bagaimana mungkin negeri ini berharap bersih dari praktik maling dan penyimpangan..?, jika mereka yang berada di dalam sistem justru ikut bermain dalam pertandingan yang sama.
Manajer mengatur skenario, asisten manajer menjaga ritme permainan, dan para pemain di lapangan pun tak segan ikut nimbrung menikmati jalannya laga.
Ketika pengawasan berubah menjadi kompromi, dan amanah bergeser menjadi kepentingan, maka yang lahir bukanlah pemerintahan yang bersih, melainkan lingkaran kekuasaan yang saling melindungi.
Negara yang diisi oleh para “pengerat (tikus) berdasi”, mereka yang menggerogoti dari dalam sambil berbicara tentang integritas tidak akan pernah melahirkan tata kelola yang sehat.
Sebab masalah terbesar bukan hanya pada sistem yang rusak, tetapi pada moral para pelaku yang enggan berubah.
Jika ingin benar-benar bersih, maka yang harus diganti bukan sekadar formasi permainan, melainkan seluruh cara berpikir, keberanian menegakkan hukum, dan komitmen untuk berhenti menjadikan kekuasaan sebagai ladang keuntungan pribadi.
Karena rakyat tidak membutuhkan sandiwara strategi, rakyat membutuhkan kejujuran yang nyata.
