Iklan

Dari Tembilahan untuk Indragiri Hilir yang Bebas Narkoba. LINCAI, Filosofi Perjuangan H. Budiansyah dalam Menjaga Masa Depan Generasi Indragiri Hilir.

Senin, 08 Juni 2026, 16.51 WIB Last Updated 2026-06-08T09:51:53Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Gardamedia.co.id. Indragiri Hilir, Riau 8 Juni 2026 - Dalam perspektif pembangunan manusia, ancaman narkotika tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan hukum dan kriminalitas semata, melainkan sebagai tantangan multidimensional yang menyentuh aspek sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, hingga ketahanan suatu bangsa. Dari kesadaran inilah, H. Budiansyah, BD menempatkan gerakan anti narkotika sebagai bagian dari ikhtiar strategis untuk menjaga kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan masa depan daerah.


Lahir di Tembilahan pada 4 Agustus 1971, H. Budiansyah merupakan putra daerah yang tumbuh bersama dinamika sosial masyarakat Indragiri Hilir. Pengalaman panjang dalam kehidupan bermasyarakat membentuk cara pandangnya bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya dalam membangun karakter, moralitas, serta ketahanan sosial terhadap berbagai ancaman yang dapat menghambat proses pembangunan.


Berangkat dari pemikiran tersebut, beliau memandang penyalahgunaan narkotika sebagai ancaman serius terhadap kualitas generasi muda. Narkotika tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi juga berpotensi menggerus produktivitas, melemahkan institusi keluarga, serta menghambat lahirnya generasi yang mampu menjadi aktor pembangunan di masa depan.


Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Kabupaten Indragiri Hilir periode 2025–2030 melalui Musyawarah Cabang ke-II yang berlangsung secara aklamasi merupakan bentuk legitimasi moral sekaligus pengakuan atas kapasitas kepemimpinannya. Amanah tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai langkah konkret yang berorientasi pada pencegahan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.


Di bawah kepemimpinannya, GRANAT tidak diposisikan semata sebagai organisasi sosial, melainkan sebagai instrumen pembangunan kesadaran publik. Pendekatan yang dikedepankan adalah membangun budaya kolektif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam upaya pencegahan narkotika. Sebab, menurutnya, efektivitas pemberantasan narkoba tidak hanya bergantung pada penegakan hukum, tetapi juga pada tingkat literasi, partisipasi, dan kesadaran sosial masyarakat itu sendiri.


Gagasan tersebut diwujudkan melalui pembentukan Kampung Tangguh Anti Narkoba di Jalan Pangeran Hidayat, Tembilahan. Kehadiran kampung ini merupakan manifestasi dari pendekatan berbasis komunitas (community-based approach) dalam membangun ketahanan sosial terhadap ancaman narkotika.


Lebih dari sekadar sebuah kawasan, Kampung Tangguh Anti Narkoba dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan edukasi, pengawasan lingkungan, penguatan peran keluarga, serta partisipasi aktif warga dalam menciptakan ekosistem sosial yang sehat dan produktif. Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa pencegahan narkotika dapat dilakukan melalui penguatan modal sosial yang dimiliki masyarakat.


Peresmian kampung tersebut dilakukan oleh H. Dwi Budiyanto, S.Sos, yang mewakili Penjabat Bupati Indragiri Hilir, bersama AKBP Farouk Oktora, S.H., S.I.K. Kehadiran berbagai unsur pemerintah dan aparat penegak hukum dalam peresmian tersebut menunjukkan bahwa upaya penanggulangan narkotika memerlukan sinergi lintas sektor dan tanggung jawab bersama.


Dalam kerangka pemikirannya, H. Budiansyah meyakini bahwa keberhasilan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar investasi yang masuk atau seberapa banyak infrastruktur yang dibangun. Keberhasilan yang hakiki terletak pada kemampuan daerah tersebut melahirkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara mental, cerdas secara intelektual, serta memiliki integritas moral yang kokoh.


Pandangan tersebut kemudian dirumuskan dalam sebuah motto perjuangan yang sederhana namun memiliki makna filosofis yang mendalam:


"LINCAI" Lenyapkan Itu Narkoba, Cita-cita Anak Inhil


LINCAI bukan sekadar slogan organisasi, melainkan sebuah konstruksi pemikiran yang menempatkan pemberantasan narkotika sebagai investasi peradaban. Di dalamnya terkandung keyakinan bahwa setiap upaya menyelamatkan generasi muda dari narkoba sesungguhnya adalah upaya menjaga keberlangsungan cita-cita, harapan, dan masa depan Kabupaten Indragiri Hilir.


Bagi H. Budiansyah, pembangunan yang berkelanjutan harus dimulai dari pembangunan manusia. Oleh karena itu, perjuangan melawan narkotika bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan gerakan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan kesadaran kolektif. Sebab hanya dengan generasi yang sehat, produktif, dan berintegritas, Indragiri Hilir dapat melangkah menuju masa depan yang lebih maju, bermartabat, dan berdaya saing.


Melalui kepemimpinannya di GRANAT, H. Budiansyah, BD terus berupaya meneguhkan pesan bahwa menjaga generasi muda dari narkotika bukan sekadar tugas organisasi, melainkan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat dalam menjaga arah dan kualitas peradaban bangsa.


Profil Singkat


Nama: H. Budiansyah, BD

Tempat/Tanggal Lahir: Tembilahan, 4 Agustus 1971


Jabatan: Ketua DPC GRANAT Kabupaten Indragiri Hilir


Masa Bakti: 2025–2030


Organisasi: Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT)


Program Unggulan: Kampung Tangguh Anti Narkoba


Motto Perjuangan: "Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati, Selamatkan Generasi Bangsa dari Bahaya Narkoba."

"LINCAI — Lenyapkan Itu Narkoba, Cita-cita Anak Inhil."

Komentar

Tampilkan

Terkini