Gardamedia.co.id. KUALA INDRAGIRI, INHIL, RIAU 12 Juni 2026 – Di tengah hiruk-pikuk perayaan Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Bupati Herman memilih menempuh jalan yang berbeda. Bukan panggung seremonial, bukan pula gemerlap perayaan. Ia justru menapaki jejak sejarah dengan berziarah ke makam Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Guru Sapat, ulama besar yang namanya menggema hingga ke mancanegara.
Kunjungan yang berlangsung dua hari menjelang puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Inhil itu bukan sekadar agenda rutin. Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap membuat masyarakat lupa pada akar sejarahnya, langkah Bupati Herman seakan menjadi pesan keras bahwa kemajuan daerah tidak boleh tercerabut dari nilai-nilai perjuangan para pendahulu.
Didampingi para zuriat, jajaran Pemerintah Kabupaten Inhil, Pemerintah Kecamatan Kuala Indragiri, serta perangkat Desa Teluk Dalam, Bupati Herman larut dalam lantunan tahlil dan doa di pusara ulama yang menjadi simbol kebesaran Islam dan peradaban Indragiri tersebut.
"Di usia yang ke-61 tahun ini, semoga daerah kita dijauhkan dari bencana, negeri kita mendapat keberkahan, dan masyarakatnya dapat hidup sejahtera," ujar Herman penuh harap.
Namun ziarah itu tidak berhenti pada doa. Herman mengingatkan bahwa Tuan Guru Sapat bukan hanya tokoh agama yang menyebarkan syiar Islam, melainkan sosok visioner yang ikut meletakkan fondasi kemajuan daerah jauh sebelum istilah pembangunan menjadi jargon politik.
Menurutnya, peran Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari saat mengemban amanah sebagai Mufti Kerajaan Indragiri telah memberikan arah bagi kehidupan sosial masyarakat. Bahkan, sistem pengelolaan parit perkebunan kelapa yang dahulu dicontohkan sang ulama masih menjadi denyut kehidupan ekonomi petani hingga hari ini.
"Beliau bukan hanya meninggalkan ajaran agama, tetapi juga warisan peradaban. Apa yang beliau contohkan dalam pengelolaan perkebunan kelapa masih menjadi pegangan masyarakat sampai sekarang," tegas Herman.
Momentum Milad ke-61 Inhil, kata Herman, seharusnya menjadi saat yang tepat bagi masyarakat untuk bercermin. Sebab kemajuan tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kerja keras, keteladanan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para tokoh besar daerah.
Karena itu, Bupati Herman mengajak seluruh masyarakat Inhil untuk tidak sekadar mengenang nama besar Tuan Guru Sapat, tetapi juga meneladani akhlak, pemikiran, dan semangat pengabdiannya.
"Jangan biarkan warisan besar ini hanya menjadi cerita masa lalu. Jadikan ajaran dan keteladanan beliau sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari agar Inhil terus tumbuh sebagai negeri yang bermartabat, religius, dan sejahtera," pungkasnya.
Di usia ke-61 tahun, Indragiri Hilir sesungguhnya sedang dihadapkan pada satu pertanyaan penting: apakah hanya merayakan usia, atau benar-benar melanjutkan perjuangan para pendahulu? Ziarah ke makam Tuan Guru Sapat menjadi pengingat bahwa masa depan yang kuat hanya dapat dibangun oleh masyarakat yang tidak melupakan akar sejarahnya. (Thonk)

