Gardamedia.co.id. Indragiri Hilir, 16 Juni 2026 – Gelombang keluhan masyarakat terkait pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis digital kembali ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Namun di tengah derasnya kritik terhadap sistem yang diterapkan pemerintah, muncul pertanyaan mendasar, "apakah yang bermasalah adalah programnya, atau justru kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi era digital".
Program PPDB berbasis teknologi sejatinya hadir bukan untuk mempersulit masyarakat. Sebaliknya, sistem ini dirancang sebagai langkah konkret untuk menciptakan proses penerimaan siswa yang lebih transparan, efektif, dan efisien. Melalui sistem satu pintu, berbagai potensi penyimpangan seperti pungutan liar, biaya formulir yang tidak jelas, praktik jual beli bangku sekolah, hingga titipan orang dalam dapat diminimalisir.
Namun, sebagian besar perdebatan yang muncul justru berfokus pada anggapan bahwa teknologi menjadi sumber kesulitan. Padahal, persoalan yang lebih mendasar adalah rendahnya literasi digital dan minimnya kesadaran untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Teknologi bukanlah musuh masyarakat. Teknologi hanyalah alat. Ketika alat tersebut dianggap merepotkan, maka yang perlu dievaluasi bukan semata sistemnya, melainkan kemampuan penggunanya dalam memahami dan memanfaatkannya.
Fenomena yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa media sosial lebih sering dijadikan ruang keluhan terhadap teknologi daripada sarana untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri. Padahal jika dibandingkan dengan sistem lama, proses pendaftaran digital jauh lebih sederhana daripada harus datang langsung ke sekolah, membeli formulir, mengantre berjam-jam, hingga membuka peluang praktik-praktik yang selama ini menjadi keluhan masyarakat sendiri.
Kondisi ini menjadi alarm bagi masa depan generasi muda. Jika para orang tua masih enggan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, bagaimana mereka dapat mendampingi anak-anak menghadapi dunia yang semakin digital...?, bagaimana anak-anak akan bersaing di masa depan jika lingkungan terdekat mereka justru menolak perubahan dan kemajuan..?
Era digital tidak akan menunggu siapa pun. Adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kritik terhadap sistem tentu sah dan diperlukan sebagai bahan evaluasi. Namun masyarakat juga perlu memiliki keberanian untuk bercermin, bahwa tidak semua kesulitan berasal dari teknologi. Terkadang, tantangan terbesar justru berasal dari ketidaksiapan diri sendiri dalam menerima perubahan.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau kecanggihan sistem yang dibangun, tetapi juga oleh kemauan masyarakat untuk belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kapasitas diri. Pilihan itu berada di tangan kita semua. (Thonk)
