𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. 𝑻𝑬𝑴𝑩𝑰𝑳𝑨𝑯𝑨𝑵, 𝟐𝟏 𝑱𝒖𝒍𝒊 𝟐𝟎𝟐𝟔 – Sebuah daerah tidak sedang diuji ketika anggarannya melimpah. Sebaliknya, ujian sesungguhnya datang ketika keterbatasan memaksa pemerintah menentukan apa yang benar-benar layak diprioritaskan. Di titik itulah, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir memilih untuk tidak membiarkan Hari Anak Nasional 2026 sekadar menjadi agenda yang terlupakan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat awal persiapan Hari Anak Nasional yang digelar di Aula Dinas Sosial Kabupaten Indragiri Hilir, Selasa (21/7/2026). Rapat dipimpin Plt Asisten I Setda Inhil, TM Saifullah, dan dihadiri perwakilan OPD, Forum Anak Inhil, BAZNAS, APSAI, serta berbagai pemangku kepentingan.
Pertemuan itu membahas konsep kegiatan, penguatan koordinasi lintas sektor, hingga pembagian peran agar peringatan Hari Anak Nasional benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak, bukan sekadar menjadi acara seremonial.
TM Saifullah menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh dijadikan tameng untuk mengurangi perhatian terhadap generasi penerus.
"𝑫𝒊 𝒕𝒆𝒏𝒈𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂𝒏, 𝑷𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝑲𝒂𝒃𝒖𝒑𝒂𝒕𝒆𝒏 𝑰𝒏𝒅𝒓𝒂𝒈𝒊𝒓𝒊 𝑯𝒊𝒍𝒊𝒓 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒌𝒔𝒂𝒏𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒂𝒌 𝑵𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 𝑻𝒂𝒉𝒖𝒏 𝟐𝟎𝟐𝟔," 𝒕𝒆𝒈𝒂𝒔𝒏𝒚𝒂.
Pernyataan itu mengandung pesan yang kuat: masa depan anak tidak boleh menjadi korban pertama ketika efisiensi dilakukan. Sebab, mengabaikan anak hari ini sama artinya dengan mempertaruhkan kualitas daerah di masa depan.
Karena itu, TM Saifullah mengajak seluruh perangkat daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk membuktikan bahwa kepedulian terhadap anak tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata dan kolaborasi.
"𝑫𝒖𝒌𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝑶𝑷𝑫 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒕𝒂𝒌𝒆𝒉𝒐𝒍𝒅𝒆𝒓 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒖𝒏𝒄𝒊 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒓𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒊𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒈𝒊𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒂𝒌 𝑵𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 𝑻𝒂𝒉𝒖𝒏 𝟐𝟎𝟐𝟔 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒌𝒔𝒂𝒏𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒔𝒆𝒓𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒏𝒇𝒂𝒂𝒕 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒂𝒏𝒂𝒌-𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝑲𝒂𝒃𝒖𝒑𝒂𝒕𝒆𝒏 𝑰𝒏𝒅𝒓𝒂𝒈𝒊𝒓𝒊 𝑯𝒊𝒍𝒊𝒓," 𝒖𝒋𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂.
Hari Anak Nasional bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah cermin keberpihakan sebuah daerah kepada generasi yang kelak akan menentukan arah pembangunan.
𝑺𝒆𝒋𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒑𝒂 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓 𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊, 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒑𝒂 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒊𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒂𝒌-𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒑𝒓𝒊𝒐𝒓𝒊𝒕𝒂𝒔. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌)

