Gardamedia.co.id. Kuantan Singingi, 3 Juli 2026 - Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) bukan sekadar perlombaan membaca Al-Qur'an. Ia adalah cermin keberhasilan sebuah daerah dalam membina generasi Qur'ani. Karena itu, setiap hasil yang diperoleh sesungguhnya adalah potret dari arah kebijakan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Hasil MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau 2026 menempatkan Kabupaten Indragiri Hilir di peringkat ke-8 berdasarkan akumulasi nilai seluruh cabang lomba.
Klasemen Akhir MTQ ke-44 Provinsi Riau:
1. Rokan Hilir 2. Bengkalis 3. Kuantan Singingi 4. Indragiri Hulu 5. Pekanbaru 6. Siak 7. Kampar 8. Indragiri Hilir 9. Pelalawan 10. Kepulauan Meranti 11. Rokan Hulu 12. Dumai
Di sisi lain, Indragiri Hilir memang berhasil meraih Juara II Bazar dan Stand Pameran Produk Unggulan Daerah. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Namun publik tentu tidak bisa diminta menutup mata terhadap hasil utama MTQ yang justru berada di papan tengah.
Pertanyaan yang muncul bukanlah "siapa yang salah", melainkan "mengapa ini bisa terjadi...?"
Jika menoleh ke belakang, grafik prestasi Inhil memperlihatkan kondisi yang naik-turun tanpa arah yang jelas.
1. MTQ 2023: Peringkat 4
2. MTQ 2024: Peringkat 8
3. MTQ 2025: Peringkat 5
4. MTQ 2026: Peringkat 8
Data ini berbicara lebih keras daripada pidato apa pun. Prestasi belum menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Ini bukan lagi soal kalah atau menang dalam sebuah perlombaan, melainkan tentang sejauh mana pembinaan generasi Qur'ani benar-benar menjadi prioritas pembangunan daerah.
Publik tentu berhak bertanya, "Apakah pembinaan dilakukan secara berkelanjutan, atau hanya menjadi agenda yang kembali sibuk ketika MTQ sudah di depan mata."
"Apakah pembinaan qari, qariah, hafiz, dan hafizah selama ini sudah menjadi prioritas...? Apakah anggaran dan perhatian pemerintah benar-benar diarahkan untuk membangun kualitas generasi Qur'ani...? Ataukah energi pemerintah lebih banyak terserap pada pencitraan, seremoni, dan kegiatan yang lebih mudah dipamerkan daripada membangun hasil yang nyata."
Lebih menarik lagi, Indragiri Hilir telah ditetapkan sebagai tuan rumah MTQ ke-46 Tingkat Provinsi Riau. Menjadi tuan rumah adalah sebuah kehormatan, tetapi juga ujian besar. Sebab masyarakat tidak hanya akan menilai megahnya panggung, ramainya tamu undangan, atau suksesnya seremoni. Yang akan menjadi sorotan adalah satu hal, "Mampukah kafilah Indragiri Hilir bangkit dari peringkat kedelapan dan bersaing memperebutkan gelar juara...?"
Jika hasil MTQ tahun ini tidak dijadikan bahan evaluasi yang serius, maka status sebagai tuan rumah berisiko hanya menjadi kebanggaan sesaat. Tetapi jika pemerintah mampu menjadikan peringkat kedelapan ini sebagai titik balik pembenahan, maka MTQ ke-46 bisa menjadi momentum kebangkitan.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menginginkan penyelenggaraan yang meriah. Masyarakat menunggu prestasi. Sebab dalam setiap kompetisi, yang dikenang sejarah bukanlah siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang mampu membuktikan.
Pemerintah tentu boleh bangga dengan prestasi di bidang pameran. Tetapi masyarakat juga berhak menuntut prestasi pada panggung utama. Sebab yang dikenang dalam sejarah MTQ bukanlah megahnya stand pameran, melainkan posisi daerah dalam klasemen akhir.
Daerah yang memiliki tradisi Islam kuat seharusnya mampu menjadikan MTQ sebagai ajang pembuktian kualitas pembinaan, bukan sekadar kehadiran dalam seremoni tahunan.
Peringkat kedelapan bukanlah akhir dari segalanya. Namun akan menjadi persoalan apabila hasil seperti ini terus dianggap biasa dan berlalu tanpa evaluasi yang mendalam.
Masyarakat tidak membutuhkan narasi bahwa "semua sudah berusaha." Masyarakat membutuhkan bukti bahwa setiap tahun ada peningkatan. Bahwa setiap anggaran yang dikeluarkan berbanding lurus dengan prestasi yang diraih. Bahwa setiap program pembinaan benar-benar melahirkan hasil yang dapat dibanggakan.
MTQ tahun ini seharusnya menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Sebab keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kualitas hasil yang mampu dipersembahkan kepada masyarakat.
Jika tahun ini Indragiri Hilir harus puas di posisi kedelapan, maka yang ditunggu publik bukanlah alasan. Yang ditunggu adalah keberanian pemerintah untuk mengevaluasi diri, memperbaiki sistem pembinaan, dan membuktikan pada MTQ berikutnya bahwa Indragiri Hilir memang layak kembali berada di barisan terdepan. (Thonk)
