Oleh: 𝑻𝒐𝒕𝒐 𝑰𝒔𝒂𝒏𝒕𝒐 𝑫𝑺 (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌-𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌 𝑩𝒍𝒖𝒆𝒔)
𝐆𝐚𝐫𝐝𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚.𝐜𝐨.𝐢𝐝. 𝐂𝐚𝐭𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐫𝐚𝐤, 4 𝐀𝐠𝐮𝐬𝐭𝐮𝐬 𝟐𝟎𝟐𝟔 - Kita terlalu sering mengira bahwa kemerdekaan adalah peristiwa, padahal kemerdekaan adalah keadaan. Peristiwa terjadi pada 17 Agustus 1945, dan Keadaan seharusnya berlangsung setiap hari. Di situlah problem Indonesia, "𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒚𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒔𝒕𝒊𝒘𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒈𝒂𝒈𝒂𝒍 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒔𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒂𝒅𝒂𝒂𝒏."
Setiap Agustus, negara menjadi sangat patriotik. Bendera dipasang, upacara digelar, pidato diperdengarkan, dan kata “merdeka” diulang seperti mantra. Tetapi justru pada saat itulah pertanyaan paling penting muncul, "𝑴𝒆𝒏𝒈𝒂𝒑𝒂 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒌-𝒉𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒎𝒆𝒔𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒊𝒋𝒂𝒎𝒊𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒌𝒆𝒎𝒆𝒓𝒅𝒆𝒌𝒂𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊..?)
Kemerdekaan Indonesia memasuki ke-81 tahun usia. Itu bukan usia muda, tetapi juga belum tentu usia yang dewasa. Sebab kedewasaan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh lamanya ia berdiri, melainkan oleh kemampuannya mengoreksi diri. Dan bangsa yang enggan mengoreksi diri sedang merayakan ilusi, bukan kemerdekaan.
Korupsi, kolusi, dan nepotisme masih hidup bukan karena hukum tidak ada, tetapi karena kekuasaan terlalu sering menemukan cara untuk bernegosiasi dengan hukum. Di republik ini, yang sering kali kuat bukanlah argumen, melainkan akses, dan yang menentukan bukan kompetensi, melainkan kedekatan. Itulah sebabnya banyak orang merasa merdeka hanya ketika berada di lingkaran kekuasaan.
Kita mengatakan Indonesia telah merdeka, tetapi mengapa keadilan masih harus mengantre...?, mengapa kesempatan masih diwariskan..?, dan mengapa jabatan masih terasa lebih dekat kepada jaringan daripada kepada kemampuan..?. Jika pertanyaan-pertanyaan itu masih relevan, berarti kemerdekaan belum selesai.
Ada baiknya kita semua merenungkan kembali kalimat dari Presiden Republik Indonesia pertama, sang Proklamator Ir. Soekarno, "𝑷𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏𝒌𝒖 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒎𝒖𝒅𝒂𝒉, 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒖𝒔𝒊𝒓 𝒑𝒆𝒏𝒋𝒂𝒋𝒂𝒉. 𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏𝒎𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒔𝒖𝒍𝒊𝒕, 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒘𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒔𝒂𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊."
Ucapan ini merupakan salah satu amanat paling legendaris dari Ir. Soekarno yang disampaikan dalam pidato menyambut Hari Pahlawan pada 10 November 1961. Bung Karno menyampaikan kalimat ini bukan tanpa alasan, beliau memiliki visi yang sangat tajam mengenai masa depan Indonesia.
𝑨𝒏𝒄𝒂𝒎𝒂𝒏 𝑫𝒊𝒔𝒊𝒏𝒕𝒆𝒈𝒓𝒂𝒔𝒊 : Pada era 1950-an hingga 1960-an, Indonesia didera berbagai pergolakan daerah, pemberontakan internal, dan konflik politik antar-golongan.
𝑹𝒂𝒎𝒂𝒍𝒂𝒏 𝑴𝒂𝒔𝒂 𝑫𝒆𝒑𝒂𝒏 : Beliau sudah melihat potensi bahwa setelah penjajah fisik pergi, tantangan terbesar bangsa Indonesia adalah menjaga persatuan di tengah ego kelompok, adu domba, korupsi, dan konflik horizontal sesama anak bangsa.
Jadi, mengapa tidak merdeka di Hari Merdeka..? Karena yang kita rayakan terlalu sering adalah simbol, sementara substansinya dibiarkan menguap. Kita sibuk mengibarkan bendera, tetapi lupa menegakkan etika, dan kita selalu di suruh untuk menghafal sejarah perjuangan, tetapi tidak cukup berani melawan penyimpangan yang terjadi di depan mata.
Merdeka seharusnya berarti kemampuan mengatakan yang benar kepada yang berkuasa. Jika itu masih dianggap ancaman, maka republik ini memang sudah berumur 81 tahun, tetapi kesadaran demokrasinya belum tentu setua usianya. Barangkali, yang paling tidak merdeka di negeri ini bukan rakyat, melainkan keberanian untuk berkata jujur.
"𝑴𝒆𝒏𝒈𝒂𝒑𝒂 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝑴𝒆𝒓𝒅𝒆𝒌𝒂 𝒅𝒊 𝑯𝒂𝒓𝒊 𝑴𝒆𝒓𝒅𝒆𝒌𝒂". Hal ini berkaitan dengan masalah ketimpangan, kemiskinan, atau tekanan hidup yang masih dirasakan rakyat. Masyarakat yang belum merasakan kebebasan seutuhnya secara sosial, ekonomi, atau batin, meskipun secara resmi negara telah memperingati hari kemerdekaan. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌-𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌 𝑩𝒍𝒖𝒆𝒔)
