𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. TEMBILAHAN 𝟐𝟗 𝑨𝒈𝒖𝒔𝒕𝒖𝒔 𝟐𝟎𝟐𝟔 — Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Sebab, mengenang Rasulullah bukan sekadar menghadirkan nama beliau dalam shalawat, tetapi menghadirkan keteladanannya dalam perilaku.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Al-Munawwarah, Jalan Batang Tuaka, RW 05, Kelurahan Pekan Arba, Tembilahan, Jumat malam, 28 Agustus 2026, atau 15 Rabiul Awal 1448 H.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB selepas salat Isya tersebut terbuka untuk masyarakat umum. Hadir KH. Rusli Kurnain selaku Ketua Dewan Pembina Masjid Al-Munawwarah dan Dr. H. Mariyanto, SE., MH. selaku Ketua Umum Masjid Al-Munawwarah.
Peringatan menghadirkan Dr. KH. Achmad Makki, S.Pd.I., M.Sy., Pengasuh Ma'had Daswa Kuala Tungkal, Jambi, sebagai penceramah utama.
Namun, Maulid kali ini tidak sekadar berbicara tentang sejarah kelahiran Nabi. Pesannya diarahkan kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar: apa arti mencintai Rasulullah jika akhlak beliau tidak hadir dalam kehidupan kita?
Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Rusman Yatim, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah Maulid bukanlah kemeriahan acara, melainkan perubahan yang lahir setelah jamaah meninggalkan masjid.
"𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝑴𝒂𝒖𝒍𝒊𝒅 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒆𝒏𝒕𝒊 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒓𝒆𝒎𝒐𝒏𝒊𝒂𝒍. 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈, 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕, 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒖𝒔𝒊𝒂𝒉, 𝒌𝒆𝒎𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏. 𝑨𝒌𝒉𝒍𝒂𝒌 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂, 𝒍𝒊𝒏𝒈𝒌𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒂𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒕," 𝒖𝒋𝒂𝒓 𝑯. 𝑹𝒖𝒔𝒎𝒂𝒏.
Kata-kata dari Panitia itu menjadi penting, ketika kehidupan beragama terkadang lebih mudah terlihat dalam simbol daripada dalam perilaku. Masjid bisa penuh, Shalawat bisa menggema, Mimbar bisa ramai dengan nasihat. Tetapi pertanyaan yang lebih sulit adalah, "𝒂𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒖𝒃𝒂𝒉 𝒎𝒂𝒏𝒖𝒔𝒊𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂..? Di situlah makna Maulid diuji.
H. Rusman juga mengatakan, masjid harus menjadi ruang yang mempertemukan manusia dalam semangat persaudaraan, kepedulian dan persatuan.
" 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒍, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒊𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝑺𝑨𝑾, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒕𝒊𝒕𝒊𝒌 𝒚𝒆𝒎𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒂. 𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒊𝒕𝒖, 𝒎𝒐𝒎𝒆𝒏𝒕𝒖𝒎 𝑴𝒂𝒖𝒍𝒊𝒅 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒔𝒂𝒓𝒂𝒏𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒖𝒌𝒉𝒖𝒘𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏. 𝑴𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒓𝒂𝒎𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒋𝒊𝒅, 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒎𝒐𝒎𝒆𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌𝒊 𝒅𝒊𝒓𝒊," 𝒑𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒔 𝑯. 𝑹𝒖𝒔𝒎𝒂𝒏.
Tausiah Dr. KH. Achmad Makki malam itu membawa pesan yang lebih menukik, "𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒌𝒖 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝒂𝒌𝒉𝒍𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒃𝒂𝒉". Kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak dapat diukur hanya dari seberapa sering nama Nabi disebut, melainkan dari seberapa jauh akhlak beliau menjadi bagian dari kehidupan.
" 𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒊 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒅𝒆𝒓𝒉𝒂𝒏𝒂, 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉𝒌𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒉𝒍𝒂𝒌 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂..? 𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒐𝒂𝒍 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒎𝒂𝒕, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒍𝒂𝒌𝒖," 𝒑𝒆𝒔𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂.
Pesan tersebut menyentuh persoalan mendasar dalam kehidupan umat. Jangan sampai kesalehan berhenti pada ritual, sementara hubungan dengan sesama manusia justru kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
"𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒓𝒂𝒋𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒎𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕𝒊. 𝑹𝒂𝒋𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒊𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒈𝒂𝒎𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒖𝒍𝒊𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒍𝒊𝒔𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒋𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒎𝒂𝒋𝒆𝒍𝒊𝒔, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒉𝒍𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏," 𝒕𝒆𝒈𝒂𝒔𝒏𝒚𝒂.
Kalimat itu menjadi semacam cermin. Sebab agama tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia berdiri di hadapan Tuhan, tetapi juga bagaimana ia berdiri di hadapan manusia lain. Tidak cukup menjadi orang yang rajin beribadah jika masih mudah merendahkan, tidak cukup berbicara tentang kebenaran jika lisan masih melukai, dan tidak cukup memenuhi masjid jika hati belum mampu melahirkan kepedulian.
KH. Achmad Makki juga mengingatkan agar masjid tidak hanya hidup ketika kalender menunjukkan datangnya hari besar Islam.
"𝑴𝒂𝒔𝒋𝒊𝒅 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒓𝒂𝒎𝒂𝒊 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏. 𝑴𝒂𝒔𝒋𝒊𝒅 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌𝒊 𝒉𝒂𝒕𝒊, 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌𝒊 𝒉𝒖𝒃𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊𝒈𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌𝒊 𝒉𝒖𝒃𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒖𝒔𝒊𝒂."
Keberhasilan sebuah masjid tidak semata-mata diukur dari megahnya bangunan atau ramainya kegiatan, tetapi dari seberapa besar keberadaannya mampu menghadirkan kebaikan bagi lingkungan.
"𝑵𝒂𝒃𝒊 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝑺𝑨𝑾 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒖𝒎𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒖𝒎𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒂𝒖𝒅𝒂𝒓𝒂𝒂𝒏, 𝒔𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒅𝒖𝒍𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒔𝒆𝒔𝒂𝒎𝒂," 𝒖𝒋𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂.
Pesan itu membuat Maulid memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar peristiwa keagamaan, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Sebab persoalan terbesar bukan apakah kita mampu memperingati kelahiran Nabi, melainkan apakah kita mampu menghidupkan ajarannya di tengah kehidupan yang semakin kompleks.
Dari masjid persaudaraan seharusnya tumbuh, dari shalawat, kecintaan seharusnya hidup, dan dari keteladanan Rasulullah SAW, akhlak seharusnya menjadi nyata. Sebab cinta kepada Nabi tidak membutuhkan banyak pembuktian di bibir, ia membutuhkan perubahan yang terlihat dalam kehidupan. (𝐓𝐡𝐨𝐧𝐤)
