Iklan

Indonesia dan Kisah Cinta yang Gagal: SDA Dikeruk, Rakyat Ditinggal, Satwa Menangis. Zainal Arifin Hussein: "Pesta Ekonomi yang Tak Pernah Mengundang Rakyat".

Sabtu, 24 Januari 2026, 22.59 WIB Last Updated 2026-01-26T02:56:07Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Penulis: Zainal Arifin Hussein, Pemerhati Lingkungan dan Sosial.


Indonesia ini ibarat kekasih yang luar biasa memesona. Tanahnya subur, hutannya lebat, lautnya kaya. Semua terpikat. Investor datang berbondong-bondong. Izin dibagi bak permen. Tapi sayangnya, rakyat yang seharusnya jadi pasangan sahnya, justru sering hanya kebagian sisa-sisa.


Negeri ini menggoda dunia dengan kekayaan alamnya, tetapi terlalu sering lupa merayu kesejahteraan bagi warganya sendiri.


Bank Dunia bahkan menyebut, dengan standar global, lebih dari 60 persen rakyat Indonesia tergolong miskin atau rentan. Pemerintah memang punya versi yang lebih “halus”, yakni 8,57 persen menurut BPS. Tapi seperti riasan wajah, angka bisa dipoles, kenyataan di lapangan tetap terasa, "hidup banyak orang masih serba pas-pasan".


Pertanyaannya sederhana tapi nakal, "kalau alamnya sekaya ini, kenapa rakyatnya masih sering diajak hidup prihatin..?".


Coba tengok daerah tambang, perkebunan besar, dan konsesi hutan. Aktivitas ekonomi triliunan rupiah terjadi setiap hari. Tapi suasananya sering janggal. Jalan rusak, Air tercemar, Debu di mana-mana, dan anak muda merantau karena kampung tak lagi menjanjikan.


Tanah mereka digali, hutannya ditebang, udaranya dikorbankan, tapi kesejahteraan.. Seperti janji kampanye "sering terdengar, jarang terasa".


Data Global Forest Watch mencatat ratusan ribu hektare hutan hilang hanya dalam satu tahun. Sejak 2001, jutaan hektare tutupan pohon lenyap. Hutan yang dulu setia menjaga air, tanah, dan udara kini perlahan disingkirkan atas nama investasi.


Ironisnya, setelah hutan hilang, banjir datang. Asap datang. Bencana datang.

Lalu semua bertanya: “Kok bisa begini?”

Padahal jawabannya sudah lama ada, kita terlalu sering menggoda alam untuk dieksploitasi, tapi malas menjaganya.


Yang paling tragis mungkin nasib satwa. Gajah Sumatera terancam punah, Badak Sumatera tinggal segelintir, Orangutan Tapanuli hanya bertahan di satu bentang hutan, Gajah kerdil Kalimantan di wilayah Indonesia tinggal puluhan ekor.


Kini mereka mulai masuk ke tambang, ke kebun, ke kampung. Bukan karena mereka ingin akrab, tapi karena rumah mereka sudah diambil.


Orangutan kurus berkeliaran di area industri bukan pemandangan eksotis. Itu adalah potret telanjang, "alam yang sudah terlalu lama disakiti".


Wilayah seperti Riau, sebagian Sumatera dan Kalimantan sudah puluhan tahun “berkontribusi besar” bagi ekonomi nasional. Sawit, HTI, tambang, gambut, semuanya ada. Tapi coba dengar cerita warganya, "Kabut asap datang hampir rutin, Banjir makin sering, Konflik tanah tak selesai-selesai, dan Kemiskinan masih membayangi.


Daerahnya kaya, datanya indah, tapi hidup masyarakatnya masih sering getir. Seolah negeri ini terlalu sibuk menggoda pasar global, sampai lupa merawat rakyatnya sendiri.


Semua sepakat, pembangunan itu perlu, tapi pembangunan yang sehat seharusnya membuat rakyat lebih sejahtera, bukan justru membuat mereka semakin terpinggirkan.


Alam terus memberi, rakyat terus menunggu, elit terus menikmati. Jika pola ini dibiarkan, Indonesia bukan akan dikenang sebagai negeri kaya raya, tetapi sebagai negara yang terlalu genit mengejar investasi, sampai lupa menjaga masa depannya sendiri.


Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini berbasis data dan pemberitaan media, ditulis sebagai kritik kebijakan publik, tanpa bermaksud menyerang pihak tertentu.

Komentar

Tampilkan

Terkini