Iklan

Haul Syekh Abdul Fatah: Pemkab Inhil Serukan Persatuan di Tengah Tantangan Sosial dan Politik Daerah

Sabtu, 24 Januari 2026, 18.51 WIB Last Updated 2026-01-26T02:56:36Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Gardamedia.co.id, Tempuling, Inhil – Sabtu (24/01/2026)

Peringatan Haul ke-60 Syekh H. Abdul Fatah bin H. Abdul Rasyid bukan sekadar agenda keagamaan seremonial. Di tengah dinamika sosial dan suhu politik lokal yang kerap menghangat, momentum spiritual ini justru menjadi panggung refleksi tentang arah kepemimpinan, persatuan, dan tanggung jawab moral para pemegang kekuasaan.


Bupati Indragiri Hilir (Inhil) yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, TM. Syaifullah, menghadiri langsung kegiatan yang digelar di Masjid Al-Muttaqin, Desa Mumpa, Kecamatan Tempuling. Hadir pula Kepala Kejaksaan Negeri Inhil Sugito, SH, Ketua Pengadilan Agama Tembilahan, unsur Forkopincam, pejabat Setda, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga jamaah lintas wilayah.


Haul ini menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap sosok Tuan Guru Mumpa, ulama besar yang tidak hanya membangun tradisi keilmuan, tetapi juga membentuk karakter sosial masyarakat: tegas dalam prinsip, lembut dalam dakwah, dan konsisten membela umat tanpa kompromi.


Syekh Abdul Fatah merupakan keturunan keempat dari ulama besar Nusantara Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, sebuah garis nasab yang bukan sekadar kebanggaan genealogis, tetapi juga simbol warisan intelektual dan moral yang berat untuk dilupakan—terlebih oleh mereka yang kini mengemban amanah publik.


Dalam sambutan tertulis Bupati Inhil H. Herman yang dibacakan perwakilannya, pemerintah daerah menegaskan bahwa haul harus dimaknai lebih dari sekadar tradisi tahunan.


“Haul ini adalah pengingat bahwa pembangunan daerah tidak cukup dengan infrastruktur dan angka statistik, tetapi membutuhkan fondasi moral, kejujuran, dan keberpihakan kepada umat,” kutip pesan Bupati.


Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan implisit: bahwa krisis sosial, gesekan politik, dan ketimpangan yang masih dirasakan masyarakat hanya bisa diselesaikan bila para elite kembali pada nilai-nilai keteladanan ulama, bukan sekadar retorika kekuasaan.


Bupati juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah masyarakat yang kerap terpolarisasi oleh perbedaan pilihan politik, kepentingan kelompok, hingga provokasi digital.


“Mari kita hindari perpecahan, hentikan politik saling menjatuhkan, dan kembali kepada musyawarah sebagai jalan peradaban,” tegasnya.


Rangkaian haul diisi dengan doa, tahlil, dan tausiyah. Namun substansi acara jauh melampaui ritual: ia menjadi ruang sunyi yang justru paling lantang mengingatkan, bahwa kekuasaan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kegaduhan, dan pembangunan tanpa nilai hanya akan memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyat. (Thonk).

Komentar

Tampilkan

Terkini