Tembilahan – Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik yang kian menguat, pelantikan pengurus Forum Komunikasi Wartawan Indragiri Hilir (FKWI) periode 2026–2029 menjadi momentum penting bagi arah peran pers di daerah. Acara tersebut digelar di salah satu hotel di Tembilahan, Kamis (22/01/2026).
Bupati Indragiri Hilir (Inhil) yang berhalangan hadir diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, TM. Syaifullah. Dalam forum tersebut, pemerintah kembali menegaskan harapannya agar FKWI tetap menjadi mitra strategis dalam mendukung jalannya pembangunan daerah.
Pelantikan dilakukan oleh Andang Yusdiantoro, Pembina FKWI Inhil, dan disaksikan unsur Forkopimda, jajaran Kepala OPD, organisasi kemasyarakatan, insan pers, serta undangan lainnya. Secara seremonial, acara berlangsung khidmat. Namun di balik itu, publik juga menaruh ekspektasi lebih besar: pers bukan hanya hadir sebagai mitra pemerintah, tetapi juga sebagai penjaga kritis kekuasaan.
Dalam sambutan Bupati yang dibacakan oleh TM. Syaifullah, pemerintah menyampaikan apresiasi kepada pengurus baru FKWI serta menekankan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi yang akurat dan edukatif.
“Pers memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang konstruktif serta menjaga iklim demokrasi yang sehat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemitraan antara pers dan pemerintah seharusnya tidak dimaknai sebagai hubungan yang lunak, melainkan sebagai relasi profesional yang tetap menjaga jarak kritis demi kepentingan publik.
Ketua FKWI terpilih periode 2026–2029, Riki Sanjaya Putra, dalam pernyataannya menyampaikan komitmen untuk memperkuat profesionalisme wartawan serta memperluas sinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
Namun tantangan sesungguhnya kini berada di depan mata: bagaimana FKWI mampu menjaga independensi di tengah relasi dekat dengan kekuasaan, sekaligus hadir sebagai suara publik yang berani, objektif, dan berpihak pada kebenaran.
Pelantikan ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Seremoni telah usai. Kini publik menunggu satu hal yang lebih penting: bukti bahwa pers benar-benar berdiri untuk masyarakat, bukan sekadar menjadi pelengkap acara kekuasaan. (Thonk)
