Gardamedia.co.id, INDRAGIRI HILIR – Siang itu, langit di atas Pulau Kijang seakan menunduk. Asap hitam membubung perlahan, membawa kabar duka dari Pasar Boom, tempat di mana denyut kehidupan warga biasa berdenyut. Rabu (8/4/2026), sekitar pukul 11.20 WIB, api datang tanpa salam, melahap rumah-rumah, kios-kios, dan kenangan yang lama berdiam di dalamnya, lebih dari seratus bangunan tak lagi berdiri.
Sekitar 106 rumah berubah menjadi arang, menyisakan rangka dan puing yang berserakan seperti cerita yang terputus di tengah kalimat. Kios-kios yang dahulu riuh oleh tawar-menawar kini hanya menyimpan sunyi, seolah waktu pun enggan singgah.
Dari sebuah sudut di Jalan Pahlawan, kobaran itu bermula kecil, lalu menjelma menjadi amarah yang tak terbendung. Angin menjadi sekutu, panas menjadi bahan bakar, dan dalam sekejap, api menjalar dari dinding ke dinding, dari atap ke atap, tanpa sempat memberi jeda bagi harapan untuk diselamatkan.
Warga berlari, berteriak, saling memanggil nama dalam kepanikan. Ember-ember air menjadi senjata sederhana, tangan-tangan bersatu melawan yang tak kasat mata. Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB, api mulai tunduk, menyisakan bara yang masih berbisik pelan di antara reruntuhan.
Tak ada nyawa yang melayang, dan itu adalah syukur yang tak ternilai. Namun, kehilangan tetaplah kehilangan. Rumah bukan sekadar dinding, dan kios bukan sekadar tempat berdagang, di sanalah mimpi dititipkan, harapan dirajut, dan masa depan direncanakan.
Kini, di antara puing yang masih mengepul, warga memungut sisa-sisa kehidupan. Ada yang menemukan potongan kenangan, ada pula yang hanya menemukan kehampaan.
Namun di mata mereka, tersisa satu hal yang tak ikut hangus, keteguhan untuk bangkit.
Pemerintah hadir, membawa janji dan upaya, menata ulang yang porak-poranda. Pendataan dilakukan, bantuan mulai disalurkan, dan rencana pemulihan disusun, sebagai ikhtiar agar luka ini perlahan sembuh, meski bekasnya takkan pernah benar-benar hilang.
Musibah ini bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan pengingat bahwa kehidupan bisa berubah dalam sekejap. Bahwa api tak hanya membakar benda, tetapi juga menguji seberapa kuat manusia berdiri setelah kehilangan.
Dan di Pulau Kijang, di tanah yang baru saja disapu bara, harapan itu masih ada, diam-diam tumbuh, seperti tunas kecil di antara abu.
“Semoga yang hilang diganti dengan yang lebih baik,” lirih seorang warga, suaranya nyaris tenggelam dalam sisa asap.
Di sanalah, di antara kehancuran, manusia kembali belajar, "bahwa dari abu, kehidupan selalu menemukan cara untuk lahir kembali".(Thonk)


