Iklan

Bupati Herman Apresiasi Sutradara "Kuyank". Cerita Lokal Harus Berani Naik ke Layar Lebar, Seperti Kisah Raja Bujang.

Sabtu, 16 Mei 2026, 18.44 WIB Last Updated 2026-05-16T11:44:22Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Gardamedia.co.id. TEMBILAHAN, Riau 16 Mei 2026 – Saat sebagian orang menganggap bioskop hanya tempat hiburan dan pelarian sesaat dari rutinitas, Bupati Indragiri Hilir Herman justru melihat layar lebar sebagai ruang perenungan moral dan cermin kehidupan.


Jumat (15/5/2026) malam, suasana Gedung Engku Kelana berubah dramatis. Lampu-lampu dipadamkan, layar sinema mulai menyala, dan ratusan pasang mata tertuju pada Film Kuyank, karya Sutradara Johansyah Jumberan.


Di tengah gelap ruangan, hadir Bupati Herman bersama Ketua TP PKK Katerina Susanti, unsur Forkopimda, pejabat daerah, jajaran PKK hingga masyarakat umum yang memadati lokasi nonton bareng tersebut. Kehadiran mereka bukan sekadar menyaksikan film horor bernuansa budaya, tetapi memberi pesan bahwa karya seni masih punya tempat terhormat di tengah derasnya tontonan kosong yang membanjiri publik hari ini.


Usai pemutaran film, Herman menyampaikan pandangan yang cukup menohok. Menurutnya, film bukan hanya sarana hiburan, melainkan media pembelajaran sosial yang sering kali lebih tajam daripada ceramah panjang di ruang formal.


“Semua bergantung pada sudut pandang. Kita mesti mengambil hikmah dari tiap film yang kita tonton untuk dijadikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Film Kuyank mengajarkan tentang kekuatan keluarga, iman, moral, dan kemanusiaan,” tegas Herman.


Pernyataan itu seolah menjadi sindiran halus terhadap kondisi masyarakat modern yang semakin akrab dengan tontonan, namun makin jauh dari nilai-nilai moral yang seharusnya dijaga.


Bupati Herman juga memberikan apresiasi khusus kepada Johansyah Jumberan yang dinilai konsisten mengangkat budaya lokal ke layar lebar. Setelah sebelumnya sukses lewat film Saranjana yang mengangkat budaya Banjar, Herman menilai daerah-daerah lain, termasuk Inhil, sesungguhnya memiliki kekayaan legenda yang tak kalah kuat untuk difilmkan.


“Di Inhil ini banyak kisah besar yang belum disentuh. Ada Raja Bujang dan berbagai hikayat masyarakat yang sangat potensial menjadi inspirasi film. Tinggal bagaimana keberanian dan keseriusan kita mengangkatnya,” ujar Herman.


Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa daerah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam industri kreatif nasional. Jika budaya lokal terus dibiarkan hanya hidup dari mulut ke mulut tanpa dokumentasi dan karya visual, maka perlahan identitas daerah bisa tenggelam ditelan zaman.


Karena itu, Bupati berharap kehadiran layar lebar di Inhil tidak berhenti pada penayangan Film Kuyank yang berlangsung hingga 17 Mei mendatang. Ia ingin bioskop rakyat dan ruang-ruang pemutaran film kembali hidup sebagai sarana hiburan sehat sekaligus media edukasi publik.


Di tengah maraknya tontonan instan yang miskin pesan, malam itu Gedung Engku Kelana seakan mengingatkan satu hal, "kadang-kadang, sebuah film mampu menyalakan kesadaran yang selama ini sengaja dipadamkan." (Thonk)

Komentar

Tampilkan

Terkini