𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂 𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. 𝑻𝒆𝒎𝒃𝒊𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏, 𝟐𝟓 𝑱𝒖𝒍𝒊 𝟐𝟎𝟐𝟔 - Sepak bola lahir dari satu keyakinan sederhana: setiap orang memiliki perannya. Pemain bertanding di atas rumput, wasit menjaga keadilan, panitia merawat jalannya pertandingan, dan sponsor menguatkan langkah melalui dukungannya. Ketika setiap peran berada pada tempatnya, permainan melahirkan keindahan. Namun ketika batas itu mulai kabur, lapangan perlahan kehilangan garisnya.
Polemik yang mengiringi pelaksanaan Bupati Cup Inhil 2026 bukan lagi sekadar perdebatan tentang sebuah turnamen. Ia telah berubah menjadi percakapan mengenai batas kewenangan, tentang bagaimana sebuah kerja bersama semestinya dijaga agar tidak berubah menjadi ruang klaim dan perebutan peran.
Menanggapi dinamika yang berkembang di tengah masyarakat, Wakil Ketua Umum Askab PSSI Indragiri Hilir, H. Budiansyah, BD, mengingatkan bahwa Bupati Cup merupakan hasil gotong royong banyak pihak yang dipersatukan oleh semangat membangun sepak bola daerah.
"𝑲𝒂𝒎𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒓𝒈𝒂𝒊 𝒌𝒐𝒏𝒕𝒓𝒊𝒃𝒖𝒔𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒔𝒑𝒐𝒏𝒔𝒐𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒖𝒌𝒔𝒆𝒔𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒈𝒊𝒂𝒕𝒂𝒏. 𝑵𝒂𝒎𝒖𝒏, 𝒔𝒑𝒐𝒏𝒔𝒐𝒓 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒖𝒌𝒖𝒏𝒈, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂 𝒂𝒕𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒑𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌 𝒌𝒆𝒈𝒊𝒂𝒕𝒂𝒏. 𝑲𝒆𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒕𝒖𝒓𝒏𝒂𝒎𝒆𝒏 𝒍𝒂𝒉𝒊𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒍𝒂𝒊𝒎 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏," 𝒕𝒆𝒈𝒂𝒔 𝑩𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏𝒔𝒚𝒂𝒉.
Baginya, sebuah turnamen tidak dibangun hanya oleh dana. Ia juga disusun oleh waktu yang dikorbankan panitia, tenaga para relawan, keberanian para pemain, ketegasan wasit, pengamanan aparat, dan harapan ribuan penonton yang memenuhi tribun. Semua menjadi satu cerita yang tidak pantas diambil alih oleh satu nama.
Budiansyah menilai, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang lumrah dalam setiap penyelenggaraan. Namun, ruang terbaik untuk menyelesaikannya bukanlah riuhnya media sosial, melainkan meja musyawarah yang memberi kesempatan kepada semua pihak untuk saling mendengar.
"𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒆𝒗𝒂𝒍𝒖𝒂𝒔𝒊, 𝒎𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒎𝒆𝒌𝒂𝒏𝒊𝒔𝒎𝒆 𝒐𝒓𝒈𝒂𝒏𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊. 𝑲𝒓𝒊𝒕𝒊𝒌 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒗𝒊𝒕𝒂𝒎𝒊𝒏 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒋𝒖𝒂𝒏, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒐𝒑𝒊𝒏𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒊𝒔𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒖𝒍𝒊𝒕 𝒅𝒊𝒑𝒖𝒍𝒊𝒉𝒌𝒂𝒏," 𝒖𝒋𝒂𝒓 𝑩𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏𝒔𝒚𝒂𝒉.
Ia menegaskan, Askab PSSI Inhil tidak pernah menutup pintu terhadap evaluasi. Justru dari evaluasi itulah sebuah organisasi bertumbuh. Namun evaluasi akan kehilangan makna apabila berubah menjadi panggung untuk saling mengklaim jasa dan mengaburkan peran.
Di penghujung keterangannya, Budiansyah mengajak seluruh insan sepak bola untuk kembali mengingat hakikat olahraga, "𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒔𝒂𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒔𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏."
"𝑺𝒆𝒑𝒂𝒌 𝒃𝒐𝒍𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌 𝒎𝒂𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒕, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌 𝒊𝒏𝒅𝒊𝒗𝒊𝒅𝒖. 𝑷𝒊𝒂𝒍𝒂 𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒅𝒊𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒕𝒊𝒎, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒕𝒖𝒓𝒏𝒂𝒎𝒆𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒅𝒊𝒑𝒊𝒌𝒖𝒍 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂. 𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒊𝒕𝒖, 𝒎𝒂𝒓𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂, 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈-𝒎𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈, 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒎𝒂𝒓𝒘𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒑𝒂𝒌 𝒃𝒐𝒍𝒂 𝑰𝒏𝒅𝒓𝒂𝒈𝒊𝒓𝒊 𝑯𝒊𝒍𝒊𝒓 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒅𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒔𝒑𝒐𝒓𝒕𝒊𝒗𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏," 𝒑𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒔 𝑩𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏𝒔𝒚𝒂𝒉.
Pada akhirnya, yang akan dikenang bukan siapa yang paling lantang mengaku berjasa, melainkan siapa yang mampu menjaga lapangan tetap memiliki garisnya. Sebab ketika setiap orang memahami batas perannya, sepak bola tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga meninggalkan kehormatan. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌-𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌 𝑩𝒍𝒖𝒆𝒔)
