Iklan

Ketika Gol Mesir Dianulir, Perdebatan Lama Kembali Menyala, "Anak Emas FIFA" Itu Bernama Argentina.

Rabu, 08 Juli 2026, 10.38 WIB Last Updated 2026-07-08T03:38:43Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Gardamedia.co.id. Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir yang  berlangsung di Stadion Atlanta (Mercedes-Benz Stadium) di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat tadi malam, menyisakan begitu banyak pertanyaan yang menggunung dibenak para pecinta sepak bola.


Ketika peluit berbunyi dan gol dianulir, pertandingan seolah berhenti menjadi adu taktik. Yang tersisa adalah satu pertanyaan yang bergema di benak jutaan penonton, "Apakah semua tim benar-benar diperlakukan sama".


Adalah François Letexier, wasit asal Prancis yang  memimpin pertandingan tadi malam. Kepemimpinannya dalam laga Argentina vs Mesir yang berakhir dengan skor 3-2 ini menuai kontroversi besar dan protes keras dari kubu Mesir karena beberapa keputusannya yang dinilai menguntungkan Argentina. Beberapa keputusan yang disorot meliputi pembatalan gol kedua Mesir oleh Mostafa Ziko setelah tinjauan VAR, serta diabaikannya klaim penalti Mohamed Salah sebelum gol kemenangan Argentina tercipta.


Bagi pencinta sepak bola Indonesia, nama François Letexier tidaklah asing, karena ia juga merupakan wasit kontroversial yang memimpin laga play-off Olimpiade Paris 2024 antara Timnas U-23 Indonesia melawan Guinea.


Argentina memang menang. Namun, bagi sebagian pecinta sepak bola, kemenangan itu tidak menghentikan perdebatan. Justru sebaliknya, keputusan-keputusan kontroversial kembali menghidupkan narasi lama yang tak pernah benar-benar padam, "Benarkah Argentina adalah "anak emas FIFA"..?


Bukan karena seragam biru langitnya. Bukan karena sejarah panjangnya. Melainkan karena setiap kontroversi yang menguntungkan mereka selalu melahirkan tanda tanya baru. Ketika sebuah gol dianulir, ketika keputusan tipis selalu menjadi pembicaraan, publik pun mulai bertanya, "ini murni sepak bola, atau ada cerita lain yang tidak terlihat".


FIFA boleh mengatakan bahwa VAR adalah simbol keadilan. Namun, keadilan bukan hanya soal teknologi. Keadilan adalah soal kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari penjelasan, melainkan dari konsistensi.


Final Piala Dunia 2022 antara Argentina dan Prancis. Hingga hari ini, pertandingan itu masih menjadi bahan perdebatan bagi sebagian penggemar. Ada yang menilai seluruh keputusan wasit sudah sesuai aturan, ada pula yang merasa beberapa keputusan penting lebih menguntungkan Argentina. Perbedaan pandangan itu terus menjadi bagian dari sejarah yang diperdebatkan.


Gol tangan Diego Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986, gol yang kemudian dikenal sebagai "Hand of God". Gol itu tetap disahkan karena pada masa itu belum ada teknologi VAR. Peristiwa tersebut menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia dan terus dikenang hingga sekarang.


Sepak bola tidak hanya hidup dari gol-gol indah, tetapi juga dari keputusan-keputusan yang memicu perdebatan. Ketika kontroversi berulang, publik akan terus bertanya. Bukan karena mereka membenci pemenang, tetapi karena mereka menginginkan satu hal yang sama: keadilan yang terlihat, bukan sekadar diyakini.


Hari ini Argentina melangkah. Mesir tersingkir. Skor akan tercatat dalam sejarah. Tetapi perdebatan akan terus hidup di kepala para penonton. Sebab dalam sepak bola, hasil akhir tidak selalu mampu membungkam pertanyaan.


Mungkin Argentina memang menang karena bermain lebih baik. Mungkin pula semua keputusan wasit sudah sesuai aturan. Namun selama setiap kontroversi selalu memunculkan persepsi yang sama, dunia akan terus bertanya, "Benarkah tidak ada anak emas di sepak bola dunia, atau publik hanya diminta percaya tanpa pernah benar-benar diyakinkan". (Thonk)

Komentar

Tampilkan

Terkini