𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. TEMBILAHAN, 10 Agustus 2026 – Di bawah langit Tembilahan yang gerah dan lelah, ratusan irama langkah kaki, menggema nyanyian "𝑷𝑬𝑴𝑬𝑹𝑰𝑵𝑻𝑨𝑯 𝑺𝑰𝑩𝑼𝑲 𝑩𝑰𝑪𝑨𝑹𝑨, 𝑷𝑬𝑻𝑨𝑵𝑰 𝑴𝑬𝑵𝑨𝑵𝑮𝑮𝑼𝑵𝑮 𝑫𝑬𝑹𝑰𝑻𝑨". Bukan tanpa alasan 𝑨𝒍𝒊𝒂𝒏𝒔𝒊 𝑴𝒂𝒉𝒂𝒔𝒊𝒔𝒘𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑹𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 (𝑨𝑴𝑩𝑨𝑹) menyanyikan kidung kepedihan para petani kelapa yang nasibnya terhimpit harga murah di halaman Kantor Bupati Indragiri Hilir. Karena mereka tahu, kelapa adalah bagian penting dari kehidupan ekonomi Indragiri Hilir. Namun petani yang berdiri paling dekat dengan pohonnya justru sering berada paling jauh dari kesejahteraan.
Pada Senin 10/8/2026, Massa membentangkan spanduk besar dengan nada protes yang menohok jiwa. Itu bukan sekadar tulisan, itu adalah ratapan pilu dari akar rumput, sebuah kenyataan pahit di mana keringat petani dibayar murah, sementara para penguasa di atas sana sibuk merangkai kata demi kata di balik meja birokrasi.
Mahasiswa menuntut perombakan tata niaga dan keadilan bagi mereka yang hidupnya digantung di atas pelepah nyiur. Ketika harga jatuh, yang ikut jatuh bukan hanya nilai komoditas, daya beli masyarakat ikut melemah, ekonomi desa ikut tersendat, dan masa depan keluarga petani ikut dipertaruhkan. Pemerintah tidak cukup hanya mencatat keluhan, Pemerintah dituntut hadir dengan kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat.
Di tengah riuh rendah ketegangan itu, Bupati Indragiri Hilir H. Herman, bersama jajaran Forkopimda, melangkah keluar menemui massa. Suasana lantas mencair dalam sebuah dialog terbuka antara pemegang kuasa dan rakyat yang merana. Sang Bupati mendengarkan keluh kesah itu, mengakui beban berat yang dipikul para petani kelapa di pesisir sungai.
"𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒂𝒔𝒑𝒊𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒊𝒌. 𝑷𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒆𝒓𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒆𝒏𝒕𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒕𝒂𝒏𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒑𝒂," 𝒖𝒄𝒂𝒑 𝑩𝒖𝒑𝒂𝒕𝒊.
Bupati juga mengingatkan bahwa mengurai benang kusut perkelapaan butuh irama sinergi yang panjang, melibatkan pemerintah daerah, provinsi, pusat, hingga para pengusaha. Pemkab berjanji bakal terus menyambungkan suara dan jeritan petani Inhil ini agar sampai ke telinga pengambil kebijakan di tingkat nasional.
Persoalan kelapa memang panjang, Pemerintah daerah tidak mungkin bekerja sendirian. Tetapi “𝑻𝑰𝑫𝑨𝑲 𝑩𝑰𝑺𝑨 𝑺𝑬𝑵𝑫𝑰𝑹𝑰" bukan alasan untuk tidak memulai. Justru di sinilah kepemimpinan diuji. Bukan dari panjangnya pidato, bukan dari banyaknya slogan, dan bukan dari megahnya acara, tapi dari keberanian mengambil keputusan, ketika rakyat sudah berada di ambang kehilangan harapan.
Aksi hari itu pun ditutup. Mereka pulang membawa asa yang digantung di dahan-dahan nyiur, menanti apakah janji-janji manis ini bakal menjadi nyata, ataukah kidung petani kelapa akan terus terdengar sunyi di tanah kelahiran mereka sendiri. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌)

