𝐆𝐚𝐫𝐝𝐚𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚.𝐜𝐨.𝐢𝐝. Tembilahan 𝟗 𝐀𝐠𝐮𝐬𝐭𝐮𝐬 𝟐𝟎𝟐𝟔 — Ada nama-nama yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin telah lama beristirahat di pangkuan waktu, namun jejak langkahnya tetap terdengar di lorong-lorong sejarah, di ingatan masyarakat, dan di denyut sebuah daerah yang dibangun oleh pengorbanan para pendahulunya. Nama itu adalah Almarhum Abdul Razak Ardi.
Pemerintah Provinsi Riau secara resmi menganugerahkan "𝐆𝐞𝐥𝐚𝐫 𝐓𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐏𝐞𝐣𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐚𝐞𝐫𝐚𝐡 𝐏𝐫𝐨𝐯𝐢𝐧𝐬𝐢 𝐑𝐢𝐚𝐮" Tahun 2026 kepada putra terbaik Suku Banjar asal Kabupaten Indragiri Hilir tersebut. Penganugerahan anumerta ini ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Riau Nomor 525/VII/2026 tentang Penetapan Tokoh dan Pejuang Daerah Provinsi Riau Tahun 2026, sebagai penghormatan tertinggi atas jasa, pengabdian, perjuangan, dan dedikasi beliau bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.
Penghargaan itu bukan sekadar selembar keputusan negara. Ia adalah pengakuan bahwa ada seseorang yang pernah menanam harapan di tanah Riau, menjaga martabat masyarakatnya, dan meninggalkan teladan yang tak lekang oleh usia. Meski Almarhum telah wafat pada 23 Maret 1991 M, bertepatan dengan 7 Ramadhan 1411 H, semangatnya tetap hidup seperti cahaya yang tidak padam ketika malam datang.
Momentum ini terasa semakin khidmat karena hadir bertepatan dengan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau. Seolah sejarah sedang membuka kembali lembar-lembar yang lama tersimpan, mengingatkan bahwa kemajuan Bumi Lancang Kuning tidak lahir dari satu tangan atau satu suku semata, melainkan dari banyak jiwa yang rela mengabdi tanpa meminta dikenang. Di antara mereka, masyarakat Banjar telah memberikan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Riau.
Di balik seorang pejuang, berdiri keluarga yang tabah, yang menyimpan jejak langkah dan doa.
Anak-anak Almarhum Abdul Razak Ardi:
1. 𝐌𝐚𝐫𝐬𝐦𝐚 (𝐏𝐮𝐫𝐧) 𝐓𝐍𝐈 𝐀𝐔 𝐇. 𝐁𝐮𝐫𝐡𝐚𝐧𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐑𝐚𝐳𝐚𝐤 (𝐀𝐥𝐦)
2. 𝐃𝐫. 𝐇𝐣. 𝐑𝐚𝐢𝐡𝐚𝐧𝐚 𝐀𝐫𝐚
3. 𝐃𝐫𝐬. 𝐇. 𝐑𝐢𝐳𝐰𝐚𝐧 𝐑𝐚𝐳𝐚𝐤 (𝐀𝐥𝐦)
4. 𝐈𝐫. 𝐒𝐮𝐡𝐢𝐭𝐚 𝐑𝐚𝐳𝐚𝐤 (𝐀𝐥𝐦)
5. 𝐒𝐲𝐚𝐟𝐫𝐢𝐳𝐚𝐥 𝐑𝐚𝐳𝐚𝐤, 𝐒.𝐇
6. 𝐇. 𝐏𝐞𝐛𝐫𝐢𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐑𝐚𝐳𝐚𝐤, 𝐒.𝐄., 𝐌.𝐒𝐢
7. 𝐋𝐢𝐧𝐝𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐥𝐚., 𝐒.𝐇 (𝐀𝐥𝐦)
Bagi keluarga besar Abdul Razak Ardi, penghargaan ini adalah pelukan sejarah yang datang setelah puluhan tahun, bagi masyarakat Banjar, ia adalah kebanggaan yang menegaskan bahwa akar budaya dan pengabdian mereka telah menjadi bagian dari pohon besar bernama Riau, dan bagi generasi muda, penghargaan ini adalah pesan yang lembut namun tegas, "𝑩𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒌𝒆𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒋𝒂𝒕𝒊 𝒍𝒂𝒉𝒊𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒂𝒃𝒅𝒊𝒂𝒏, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒎𝒆𝒘𝒂𝒉𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒅𝒂𝒏𝒂𝒏, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒐𝒓𝒂𝒌 𝒕𝒆𝒑𝒖𝒌 𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏."
Di Tembilahan, di tepian sungai yang menyimpan begitu banyak kisah, nama Abdul Razak Ardi kini kembali disebut dengan penuh hormat. Bukan karena ia membutuhkan pujian, melainkan karena sebuah daerah akhirnya menuliskan dengan resmi apa yang telah lama hidup di hati masyarakatnya.
Jasa beliau akan selalu dikenang, keteladanan beliau akan terus menjadi inspirasi, dan nama beliau akan tetap terukir dalam sejarah perjuangan Provinsi Riau serta di hati masyarakat Banjar.(𝐓𝐡𝐨𝐧𝐤)
