GARDAMEDIA.CO.ID. TEMBILAHAN, 14 Oktober 2026 — Di tengah zaman yang kerap menempatkan perempuan di antara batas-batas yang diciptakan oleh keadaan, selalu ada keberanian yang tumbuh diam-diam, merawat harapan, lalu menjelma menjadi gerakan. Dari semangat itulah Nurhayati melangkah, membawa pencalonan dirinya sebagai Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PC PMII Indragiri Hilir masa khidmat 2026–2027.
Ia datang dengan sebuah cita-cita, "ππππππππππ πΎπππ πΌ π ππππππ ππ’ππβ ππππ πππππππ’ππ π¦πππ ππππππππ πππππππ, ππππππππ ππππππ πππ ππππππ, πππ πππππππ π‘ππππ ππ ππ‘ππ ππππ’ππ‘ππ ππππππ¦π π ππππππ."
Visi yang diusungnya, “ππππππππππ πΎπππ πΌ πππΌπΌ πΌπβππ π ππππππ ππ’ππβ πππππππ πππππππ’ππ π¦πππ ππππ‘ππ , πππππππ, πππππππ ππ, πππ ππππππ¦π," bukan sekadar rangkaian kata yang dititipkan pada lembar pencalonan. Di dalamnya tersimpan harapan tentang sebuah ruang yang tidak hanya menyediakan tempat untuk pulang, tetapi juga keberanian untuk bertumbuh, bukan sekadar tempat untuk berkumpul, melainkan tempat bagi gagasan untuk berakar dan perjuangan untuk menemukan arah.
Rumah yang sesungguhnya bukanlah bangunan yang melindungi penghuninya dari angin perubahan, ia adalah tempat yang mengajarkan penghuninya bagaimana berdiri ketika badai datang, bagaimana menjaga cahaya ketika gelap mengepung, dan bagaimana tetap berjalan ketika jalan perjuangan terasa panjang.
Rumah yang tidak membungkam pertanyaan, tetapi merawat keberanian untuk berpikir. Rumah yang tidak menjadikan kader sebagai pelengkap barisan, tetapi memberi mereka kesempatan untuk menentukan arah perjalanan. Rumah yang tidak mengukur perempuan dari seberapa patuh ia mengikuti keadaan, melainkan dari seberapa berani ia memperjuangkan kebenaran.
Di dalam rumah itu, kaderisasi bukan sekadar ritual pergantian generasi. Ia adalah proses menyalakan kesadaran, menanamkan integritas, dan membentuk watak perjuangan. Sebab, perempuan yang berilmu bukan hanya perempuan yang mampu menjawab pertanyaan, melainkan juga mereka yang berani mempertanyakan ketidakadilan.
Dalam langkah pencalonannya, Nurhayati membawa lima ikhtiar utama:
1. π΄emperkuat πππ πππππππ
π. π΄enggali πππππππ πππ ππ
π. π΄ππππππ πππππ πππππππ π²πΆπ·πΉπ° π π ππππππ ππππππππππ
π. π΄ππππππππ ππππππππππ π ππ πππππ ππππππ πππππππππ
π. π΄πππππππππππππ ππ ππππππ ππππ πππππππππ πππππππππ, ππππ ππ ππππ, π ππ πππππππππππ.
Lima ikhtiar itu ibarat lima akar yang hendak ditanamkan pada tanah pergerakan. Kaderisasi menjadi akar pengetahuan, pemberdayaan menjadi batang yang menguatkan, gerakan sosial menjadi cabang yang menjangkau kehidupan, kolaborasi menjadi jalinan yang menyatukan, sementara advokasi menjadi buah keberpihakan terhadap mereka yang suaranya kerap tenggelam di antara riuhnya kepentingan. Namun, cita-cita tidak pernah tumbuh hanya karena diucapkan. Ia membutuhkan tangan yang bekerja, pikiran yang terus belajar, dan hati yang tidak mudah berpaling ketika perjuangan menuntut pengorbanan.
Di situlah kepemimpinan menemukan maknanya. Bukan pada tingginya kursi yang diduduki, melainkan pada luasnya ruang yang dibukakan bagi orang lain. Bukan pada banyaknya nama yang mengelilingi seorang pemimpin, melainkan pada banyaknya kehidupan yang disentuh oleh kerja-kerjanya. Dan bukan pula pada panjangnya pidato tentang perubahan, melainkan pada keberanian menghadirkan perubahan itu sendiri.
KOPRI, dengan segala harapan yang disematkan kepadanya, membutuhkan gerakan yang hidup di luar ruang pertemuan. Gerakan yang hadir ketika perempuan menghadapi ketidakadilan, ketika pendidikan menjadi kemewahan bagi sebagian orang, dan ketika persoalan kemanusiaan menuntut lebih dari sekadar simpati. Sebab, apa arti ilmu jika ia memilih diam di hadapan ketidakadilan..? Apa arti gerakan jika langkahnya hanya berputar di dalam lingkaran sendiri..? Dan apa arti keberdayaan jika perempuan masih harus menunggu izin untuk menentukan masa depannya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya terus hidup di dalam rumah pergerakan.
Melalui semboyan “π΅ππππππ’, π΅πππππππ, π΅πππππ¦π,” Nurhayati menyampaikan harapan tentang perempuan yang tidak berhenti menjadi pembaca zaman, tetapi berani ikut menuliskan sejarahnya. Perempuan yang tidak hanya memahami persoalan, tetapi turut mencari jalan penyelesaian. Perempuan yang tidak sekadar menuntut ruang, tetapi membangun kekuatan agar ruang itu dapat dibuka bagi lebih banyak sesamanya.
Perjalanan menuju cita-cita tidak selalu terbentang di jalan yang lapang. Akan ada perbedaan pandangan, keterbatasan, dan ujian konsistensi. Karena itu, masa depan KOPRI tidak dapat digantungkan pada satu nama semata. Ia harus dirawat melalui kebersamaan, diperkuat oleh kepercayaan, dan dijalankan dengan kesediaan untuk saling mendengar. Sebab, organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang hanya memiliki seorang perempuan yang berani berdiri di depan, melainkan organisasi yang mampu melahirkan banyak perempuan berani di setiap sudut perjuangan.
Pencalonan Nurhayati bukan hanya tentang sebuah nama yang hendak mengemban amanah kepemimpinan. Ia juga membawa percakapan tentang rumah seperti apa yang ingin dibangun oleh KOPRI PMII Indragiri Hilir, rumah yang sekadar menyimpan kenangan, atau rumah yang menyiapkan perempuan untuk menghadapi masa depan.
Jika ilmu adalah cahaya, biarlah KOPRI menjadi pelitanya. Jika perjuangan adalah jalan, biarlah KOPRI menjadi langkahnya. Dan jika keberdayaan adalah tujuan, biarlah tak ada seorang pun perempuan yang ditinggalkan sendirian di sepanjang perjalanan. Karena rumah pergerakan yang sejati tidak dibangun untuk mengagungkan satu nama, melainkan untuk memastikan bahwa setelah satu generasi berlalu, akan selalu ada perempuan-perempuan lain yang berani melanjutkan cahaya.
Nurhayati
Calon Ketua KOPRI PC PMII Indragiri Hilir
Masa Khidmat 2026–2027
Berilmu untuk menerangi. Bergerak untuk mengubah. Berdaya agar tak lagi sekadar menjadi suara di pinggir sejarah, tetapi ikut menentukan ke mana sejarah harus melangkah. (ππ‘π¨π§π€)
