Iklan

Catatan Yang Terserak ----------------------------------- Jalan Rusak di Kota Tembilahan, "Wajah Pembangunan yang Terluka".

Sabtu, 07 Februari 2026, 18.47 WIB Last Updated 2026-02-07T11:47:50Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Penulis : Toto isanto               

Sebagai ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir, Tembilahan seharusnya tampil sebagai etalase pembangunan daerah. Namun realitas di lapangan justru menyuguhkan pemandangan sebaliknya. Di banyak ruas jalan dalam kota, kerusakan parah dan lubang menganga masih menjadi pemandangan sehari-hari, seolah dibiarkan menjadi bagian dari lanskap kota.


Kerusakan jalan tidak hanya terjadi di pinggiran, tetapi juga di jalur-jalur vital yang dilalui masyarakat setiap hari. Aspal terkelupas, dan permukaan jalan yang tidak rata telah berulang kali memicu kecelakaan, merusak kendaraan, serta menghambat aktivitas ekonomi warga. 


Ironisnya, kondisi ini berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan.


Lebih dari sekadar persoalan infrastruktur, jalan rusak mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan. Tambal sulam yang kerap dilakukan sering kali bersifat sementara, tidak menyentuh akar persoalan kualitas konstruksi, drainase yang buruk, dan beban kendaraan yang tidak terkontrol. 


Akibatnya, jalan kembali rusak dalam hitungan bulan, bahkan minggu. Masyarakat pun berhak bertanya, "Di mana letak prioritas pembangunan kota..?, Ketika jalan sebagai urat nadi mobilitas dibiarkan berlubang, maka keselamatan publik dipertaruhkan". 


Kepercayaan warga terhadap pemerintah daerah ikut tergerus, karena masalah yang sama terus berulang dari tahun ke tahun.


Pemerintah daerah perlu melakukan audit menyeluruh terhadap kondisi jalan, menentukan skala prioritas berbasis tingkat kerusakan dan kepadatan lalu lintas, serta memastikan kualitas pengerjaan sesuai standar teknis.


Perbaikan harus dilakukan secara permanen, dibarengi pembenahan drainase dan pengawasan ketat terhadap kontraktor. Selain itu, transparansi anggaran dan pelibatan publik dalam pengawasan dapat menjadi kunci agar pekerjaan tidak lagi asal jadi.


Tembilahan membutuhkan keberanian untuk berbenah. Jalan yang layak bukan sekadar tuntutan kenyamanan, melainkan hak dasar warga atas keselamatan dan pelayanan publik yang bermartabat.


Jika pemerintah serius ingin memulihkan wajah kota, maka memperbaiki jalan rusak harus menjadi langkah awal yang tak bisa lagi ditunda.

Komentar

Tampilkan

Terkini