Oleh: Toto Isanto DS
Di negeri yang dulu dipanggil dunia dengan penuh takzim, hamparan kelapa pernah menjadi doa yang tumbuh dari tanah. Angin laut menyisir pucuk-pucuknya, membawa kabar tentang kehidupan yang sederhana namun cukup. Setiap buah yang jatuh adalah rezeki, setiap panen adalah harapan yang pulang ke rumah.
Kini, angin yang sama berhembus dengan cerita berbeda. Pohon-pohon kelapa masih berdiri tinggi, sabar, dan setia. Namun di bawah rindangnya, manusia belajar menelan sunyi. Buah-buah jatuh tanpa disambut. Ia pecah di tanah, bukan lagi sebagai berkah, melainkan tanda bahwa sesuatu telah berubah tanpa suara.
Dulu, tangan-tangan petani mengangkat kelapa dengan bangga. Bahu mereka tegak, mata mereka penuh rencana. Dari kebun itulah anak-anak disekolahkan, dapur tetap berasap, dan masa depan terasa dekat. Kelapa bukan sekadar buah, ia adalah denyut kehidupan.
Mereka berjalan di antara pohon yang sama, tetapi dengan perasaan yang tak lagi serupa. Harga yang jatuh seperti harapan yang retak. Keringat tak lagi sebanding dengan hasil. Dan diam-diam, banyak mimpi ikut gugur bersama daun-daun tua.
Negeri hamparan kelapa dunia belum benar-benar kehilangan kekayaannya, ia hanya kehilangan cara memandangnya. Sebab makna tidak pernah hilang dari buah yang tumbuh, melainkan dari harapan yang perlahan ditinggalkan.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya mati. Di beberapa sudut desa, masih ada petani yang percaya bahwa kelapa akan kembali berjaya. Inovasi produk turunan, pengolahan modern, serta dukungan nyata dapat menghidupkan kembali nilai yang hampir padam.
Alam tidak pernah ingkar, ia tetap memberi buah, dan tetap setia, meski manusia mulai lelah percaya. Akar-akar kelapa masih memeluk tanah, menjaga pesisir dari luka riak.
Karena sejatinya, negeri hamparan kelapa dunia ini tidak pernah kehilangan kekayaan, yang hilang hanyalah arah untuk mengelolanya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika manusia kembali menundukkan hati pada tanahnya, kelapa akan kembali bermakna, bukan hanya sebagai hasil panen, tetapi sebagai tanda bahwa harapan selalu menemukan jalan pulang.
