Iklan

Catatan Yang Terserak

Senin, 16 Februari 2026, 20.12 WIB Last Updated 2026-02-16T13:12:45Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Oleh: Toto Isanto


KEPADA SIAPA SEBUTIR GANDUM AKAN MENGADU..? Jika hakimnya sendiri adalah seekor ayam.


Di sebuah ruang pengadilan, sebutir gandum berdiri sebagai simbol dari sesuatu yang kecil, lemah, dan tak memiliki kekuasaan. Ia datang membawa harapan akan keadilan, sebuah keyakinan bahwa setiap persoalan memiliki tempat untuk diselesaikan secara adil dan bijaksana.


Namun harapan itu berubah menjadi pertanyaan besar ketika ia melihat siapa yang memegang palu keputusan, seekor ayam, makhluk yang secara naluriah justru menjadikan gandum sebagai makanannya.


Ketika pihak yang berwenang memutus perkara memiliki kepentingan langsung terhadap hasilnya, maka keadilan tidak lagi berdiri di atas prinsip, melainkan di atas kepentingan. Proses mungkin tetap berjalan, aturan tetap dibacakan, dan keputusan tetap diumumkan, tetapi rasa keadilan perlahan kehilangan maknanya.


Gandum tidak sekadar berbicara tentang dirinya. Ia mewakili banyak suara kecil, individu, kelompok, atau masyarakat yang berharap perlindungan dari sistem yang seharusnya netral. Namun ketika penjaga keadilan tidak mampu menjaga jarak dari kepentingannya sendiri, maka kepercayaan menjadi hal pertama yang runtuh.


Pertanyaan yang lahir kemudian bukan lagi tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang ke mana harus mencari keadilan ketika tempat mengadu sudah tidak lagi aman.


Ini menggambarkan situasi yang dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, ketika konflik kepentingan hadir dalam pengambilan keputusan. Gandum melambangkan pihak yang rentan, sedangkan ayam menjadi simbol kekuasaan yang kehilangan objektivitas.


Pesannya sederhana namun mendalam, "keadilan hanya dapat hidup jika dijalankan oleh pihak yang bebas dari kepentingan pribadi".


Keadilan bukan hanya tentang keputusan akhir, tetapi tentang kepercayaan terhadap prosesnya. Ketika kepercayaan hilang, maka hukum hanya menjadi prosedur tanpa makna.


Dan pertanyaan itu akan selalu kembali terdengar "KEPADA SIAPA SEBUTIR GANDUM AKAN MENGADU..?, JIKA HAKIMNYA SENDIRI ADALAH SEEKOR AYAM".

Komentar

Tampilkan

Terkini