Iklan

Ketika Loyalitas Semu Mengalahkan Kompetensi. Jabatan, Kedekatan, dan Masa Depan Negeri Bukan Lagi Menjadi Tolak Ukur Untuk Sebuah Pengabdian.

Selasa, 24 Februari 2026, 23.24 WIB Last Updated 2026-02-24T16:24:45Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Catatan Yang Terserak

Oleh: Toto Isanto DS


Di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, muncul sebuah realitas yang kerap menjadi perbincangan publik, ketika loyalitas tidak lagi diukur dari integritas dan kapasitas, melainkan dari seberapa pandai seseorang menyenangkan atasan. Fenomena “menjilat” seolah menjadi jalan pintas menuju kekuasaan, jabatan, bahkan kemapanan ekonomi.


Mungkin inilah potret yang sedang dirasakan sebagian masyarakat hari ini. Ketika kompetensi sering kali kalah oleh kedekatan, dan profesionalisme tersisih oleh kepentingan kelompok. Banyak posisi strategis diisi bukan oleh mereka yang ahli di bidangnya, tetapi oleh mereka yang dianggap paling aman secara politik.


Akibatnya, roda pemerintahan berjalan tanpa arah yang jelas. Kebijakan kehilangan ketajaman, pelayanan publik melemah, dan kepercayaan rakyat perlahan terkikis. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah justru berubah menjadi simbol balas jasa.


Negara ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar, tidak pula kekurangan generasi berintegritas. Yang menjadi persoalan adalah sistem yang kadang memberi ruang lebih besar bagi kepatuhan tanpa kritik dibandingkan keberanian untuk memperbaiki.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pertanyaan besar akan selalu menggantung di benak rakyat, "hendak dibawa ke mana negeri ini..?, Apakah menuju kemajuan yang berlandaskan meritokrasi, atau justru terjebak dalam budaya feodal modern yang menghambat perubahan".


Sudah saatnya kita kembali menempatkan kompetensi, etika, dan tanggung jawab sebagai fondasi utama dalam kepemimpinan. Karena sejatinya, bangsa yang besar bukan dibangun oleh para penjilat kekuasaan, melainkan oleh mereka yang berani bekerja, berpikir, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

(Thonk) 

Komentar

Tampilkan

Terkini