Iklan

Ziarah Menguat, Spirit Keislaman Mengakar: “Langkah yang Membawa Manusia Pulang pada Makna”.

Senin, 23 Maret 2026, 03.28 WIB Last Updated 2026-03-22T20:28:05Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Gardamedia.co.id, Indragiri Hilir, 22 Maret 2026 – Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga menghidupkan kembali denyut spiritual masyarakat. Hal ini terlihat dari membludaknya peziarah yang memadati kawasan wisata religi Makam Tuan Guru Syech ‘Abdurrahman Siddiq Al-Banjari, atau yang lebih dikenal sebagai Datuk Sapat, pada H+2 Idul Fitri.


Berlokasi di Kampung Hidayat, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuindra, arus kunjungan meningkat signifikan. Peziarah tidak hanya berasal dari berbagai penjuru Kabupaten Indragiri Hilir, tetapi juga dari luar daerah hingga lintas provinsi. Tercatat, sejumlah rombongan datang dari Jawa Timur, menempuh perjalanan panjang demi menapaktilasi jejak perjuangan ulama besar tersebut.


Fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa wisata religi tidak sekadar tradisi, melainkan telah menjelma menjadi kebutuhan batin masyarakat. Ziarah ke makam Datuk Sapat bukan hanya ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai keilmuan, dakwah, dan keteladanan yang diwariskan oleh seorang waliyullah yang pernah menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.


Dalam konteks pembangunan daerah, meningkatnya kunjungan ini juga mencerminkan potensi strategis sektor wisata religi sebagai penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal. Kehadiran peziarah lintas daerah membuka peluang penguatan UMKM, peningkatan pelayanan publik, serta percepatan pembangunan infrastruktur penunjang di kawasan tersebut.


Pemerintah daerah diharapkan mampu membaca momentum ini secara visioner, dengan menghadirkan tata kelola kawasan yang lebih representatif, nyaman, dan berdaya saing. Penguatan fasilitas, aksesibilitas, serta narasi sejarah yang terkelola dengan baik akan menjadi kunci dalam menjadikan Makam Datuk Sapat sebagai destinasi unggulan tingkat nasional.


Lebih dari itu, semangat ziarah ini sejatinya adalah refleksi kolektif masyarakat dalam menjaga akar spiritual di tengah derasnya arus modernisasi. Datuk Sapat bukan hanya tokoh masa lalu, melainkan simbol peradaban yang terus hidup dalam ingatan dan keyakinan umat.


“Dari pusara yang sunyi, lahir gelombang kesadaran yang tak pernah mati, bahwa warisan nilai jauh lebih abadi daripada sekadar jejak fisik.”(Thonk)

Komentar

Tampilkan

Terkini