Gardamedia.co.id, Indragiri Hilir - Dalam dinamika kepemimpinan daerah, publik tentu mengharapkan hadirnya sosok yang tidak hanya aktif secara simbolik, tetapi juga progresif dalam kerja nyata.
Namun, yang kerap terlihat justru dominasi aktivitas seremoni, peresmian, kunjungan, dan rangkaian acara protokoler yang seolah menjadi indikator utama kinerja.
Seremoni pada dasarnya penting sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan. Akan tetapi, ketika intensitasnya lebih menonjol dibandingkan implementasi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, maka patut menjadi bahan evaluasi bersama.
Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat tidak cukup diukur dari seberapa sering ia tampil di depan publik, melainkan dari seberapa kuat dampak kebijakan yang dihasilkan. Rakyat membutuhkan solusi konkret, bukan sekadar narasi yang terbingkai rapi dalam agenda formalitas.
Momentum kepemimpinan seharusnya dimanfaatkan untuk memastikan bahwa setiap program berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Sebab pada akhirnya, legitimasi seorang bupati tidak dibangun dari banyaknya seremoni yang dihadiri, melainkan dari kepercayaan publik yang lahir dari hasil kerja nyata.
Sudah saatnya orientasi diarahkan kembali: dari panggung seremoni menuju substansi pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.(Thonk)
