Gardamedia.co.id. Tembilahan, 20 Juni 2026 – Malam itu, langit Indragiri Hilir seakan menurunkan cahaya terbaiknya. Di dalam Gedung Daerah Engku Kelana, pada Jumat, 19 Juni 2026, tepuk tangan dan sorak kebahagiaan bertaut menjadi satu dalam malam puncak Pemilihan Bujang Dara Indragiri Hilir Tahun 2026, sebuah rangkaian istimewa dalam perayaan Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir.
Di antara gemerlap panggung dan deretan para finalis, satu nama tumbuh menjadi bunga yang paling mekar di hati masyarakat, "Gadisty Latisya Khanira."
Bocah perempuan berusia sembilan tahun itu tidak hanya tampil sebagai peserta. Ia hadir laksana embun pagi yang menyejukkan, dengan senyum yang sederhana namun mampu mengetuk hati banyak orang. Melalui voting yang dilakukan secara langsung oleh masyarakat Inhil, Gadisty dinobatkan sebagai Juara Favorit, sebuah gelar yang lahir dari cinta dan dukungan rakyatnya sendiri.
Siswi SDIT Fathurrahman Tembilahan itu menjadi bukti bahwa usia bukanlah ukuran bagi cahaya untuk bersinar. Sebab, ada jiwa-jiwa yang sejak dini telah ditakdirkan membawa kebanggaan, dan Gadisty adalah salah satunya.
Di balik keberhasilan itu, berdiri dua sosok yang tak pernah lelah menjadi akar bagi tumbuhnya mimpi-mimpi sang anak, yakni kedua orang tuanya, Kaharuddin dan Widiyani Rahayu. Bagi mereka, malam itu bukan sekadar tentang sebuah gelar, melainkan tentang doa-doa yang diam-diam dipanjatkan dan akhirnya berlabuh menjadi kebahagiaan.
Ketika nama Gadisty dipanggil sebagai Juara Favorit, waktu seolah berhenti sejenak. Ada mata yang berkaca-kaca, ada tangan yang bergetar menahan haru, dan ada dada yang dipenuhi rasa syukur. Di sudut ruangan, kebahagiaan menjelma menjadi air mata yang jatuh perlahan.
Malam itu, Indragiri Hilir tidak hanya melahirkan seorang juara. Daerah ini sedang menyaksikan tumbuhnya sebuah harapan baru, seorang anak kecil dengan mimpi yang besar, yang namanya kini terukir indah di hati masyarakat.
Sebab pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah tentang mahkota yang bertengger di kepala, melainkan tentang seberapa banyak cinta yang berhasil dihimpun dari orang-orang di sekelilingnya.
Dan pada malam itu, cinta masyarakat bermuara pada satu nama, "Gadisty Latisya Khanira." Sebuah nama yang datang seperti fajar, lembut, namun cahayanya mampu menerangi banyak hati. (Thonk)

