𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂 𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐠𝐢𝐫𝐢 𝐇𝐢𝐥𝐢𝐫, 𝐑𝐢𝐚𝐮 𝟏𝟏 𝐉𝐮𝐥𝐢 𝟐𝟎𝟐𝟔 - Ada saat ketika sebuah bangsa tidak kehilangan hukum, tetapi kehilangan keyakinan bahwa hukum masih memiliki rumah. Dan mungkin, hari-hari seperti itulah yang kini sedang melintas di hadapan Indonesia.
Dugaan terseretnya nama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Ardiansyah, dalam perkara dugaan korupsi batu bara bernilai besar, menghadirkan luka yang tidak hanya tercatat di dalam berkas penyidikan, tetapi juga di dalam ingatan publik yang selama ini menggantungkan harapan kepada lembaga penegak hukum.
Kabar mengenai penggeledahan yang dilakukan penyidik Korsat Tipikor Polri di kediaman yang diduga milik Jampidsus menjalar cepat, bukan semata sebagai sebuah peristiwa hukum, melainkan sebagai gema yang mengguncang ruang kepercayaan. Sebab ketika penjaga benteng ikut dipanggil oleh bayang-bayang dugaan, yang berguncang bukan hanya tembok institusi, tetapi juga keyakinan masyarakat terhadap keadilan.
Korupsi memang selalu mencuri uang negara. Namun ketika ia diduga menyentuh mereka yang dipercaya memburunya, yang dirampas bukan lagi sekadar rupiah, melainkan harapan.
Pemerhati Kebijakan Publik, Joni Eka Putra, menilai peristiwa tersebut sebagai isyarat bahwa bangsa ini sedang menghadapi ujian besar terhadap integritas penegakan hukum.
"Ini adalah bentuk pengkhianatan kepada negara dan tamparan keras bagi penegakan hukum pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal ini menjadi puncak hilangnya harapan masyarakat Indonesia agar negeri ini terbebas dari jeratan korupsi," ujar Joni, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, luka bangsa hanya dapat dijahit oleh keberanian mengungkap kebenaran tanpa memilih siapa yang diperiksa dan siapa yang dilindungi. Sebab keadilan tidak pernah bertanya tentang pangkat, melainkan tentang perbuatan.
Joni menyatakan dukungan penuh kepada Korsat Tipikor Polri agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, jujur, dan tidak berhenti di permukaan.
"Kami mendukung Korsat Tipikor Polri untuk mengusut kejahatan ini sampai tuntas, agar luka bangsa Indonesia akibat pengkhianatan ini sedikit terobati," pungkasnya.
Pada akhirnya, sejarah selalu mengingat satu hal, "Sebuah bangsa tidak runtuh karena banyaknya orang jahat, tetapi karena mereka yang dipercaya menjaga kebenaran memilih diam atau tergoda oleh kekuasaan. Dan jika hukum ingin kembali dihormati, ia harus lebih dahulu berani membersihkan bayangannya sendiri." (𝐓𝐡𝐨𝐧𝐤)
