Gardamedia.co.id. BATANG TUAKA, 2 Juli 20026 – Alam tidak pernah berbohong. Ia tidak berkampanye, tidak membuat janji, dan tidak mengenal kompromi. Ketika manusia lengah, alam hanya menjalankan hukumnya sendiri. Itulah yang kembali dipertontonkan di perairan Anak Batang Parit Selancar, Kelurahan Sungai Piring, Kecamatan Batang Tuaka, Kamis (2/7/2026), saat seorang warga dilaporkan hilang dan diduga menjadi korban serangan buaya.
Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka. Ia adalah pengingat bahwa rasa aman sering kali dibangun di atas kebiasaan yang mengabaikan risiko. Sungai yang setiap hari menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, pada saat yang sama, adalah habitat predator yang tidak pernah mengenal belas kasihan.
Menyadari situasi tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Indragiri Hilir bersama unsur terkait dan masyarakat langsung melakukan operasi pencarian. Dengan perahu, mereka menyisir setiap sudut lokasi yang diduga menjadi titik hilangnya korban. Di tengah arus yang terus bergerak, harapan masih dipertahankan, sementara waktu terus berjalan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Indragiri Hilir, R. Arliansyah, menegaskan bahwa pencarian dilakukan segera setelah laporan diterima.
"Sejak menerima laporan, TRC BPBD bersama unsur terkait dan masyarakat langsung melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Seluruh proses pencarian dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan personel di lapangan," ujarnya.
Hingga saat ini, korban masih belum ditemukan. Tim gabungan terus mengoptimalkan pencarian sesuai kondisi di lapangan.
Peristiwa ini semestinya tidak hanya melahirkan simpati, tetapi juga kesadaran. Sebab, setiap tragedi yang berulang sering kali bukan semata-mata karena alam semakin ganas, melainkan karena manusia terlalu cepat merasa telah mengenal alam. Padahal, sungai tidak pernah kehilangan nalurinya. Manusialah yang kadang kehilangan kewaspadaannya.
BPBD Kabupaten Indragiri Hilir kembali mengimbau masyarakat agar meningkatkan kehati-hatian saat beraktivitas di kawasan sungai yang merupakan habitat buaya. Imbauan itu bukan sekadar prosedur administratif, melainkan pengingat bahwa keselamatan tidak lahir dari keberanian, tetapi dari kesadaran akan batas-batas yang tidak boleh dilanggar.
"Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun kondisi yang berpotensi membahayakan," kata R. Arliansyah.
Pada akhirnya, tragedi selalu meninggalkan pertanyaan yang lebih besar daripada jawabannya. Yang dicari hari ini bukan hanya seorang korban, tetapi juga kesadaran bersama bahwa hidup berdampingan dengan alam menuntut rasa hormat, bukan rasa percaya diri yang berlebihan. (Thonk)
