𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. Tembilahan 𝟎𝟐 𝑨𝒈𝒖𝒔𝒕𝒖𝒔 𝟐𝟎𝟐𝟔 — Ketika banyak orang berlomba mengejar jabatan, harta, dan pengaruh, satu pertanyaan sederhana layak 𝒅𝒊𝒂𝒋𝒖𝒌𝒂𝒏, "siapa yang akan tetap dikenang setelah jasad kembali menjadi tanah..?" Jawabannya mungkin akan ditemukan dalam Haul ke-25 KH. Gusti Dimyati Rahman (Abah Idam) yang akan digelar pada Rabu, 5 Agustus 2026, atau Malam Kamis ba’da Isya, pukul 20.00 WIB hingga selesai, di Jalan Tanjung Harapan Lr. Tanjung Pinang No. 30, Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan.
Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak kepergian Abah Idam, namun namanya tetap hidup di tengah masyarakat. Ironisnya, tidak sedikit mereka yang hari ini memegang kekuasaan justru akan dilupakan begitu masa jabatan berakhir. Sejarah sering kali lebih setia kepada ulama daripada kepada penguasa.
Peringatan haul ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ini adalah tamparan sunyi bagi siapa pun yang merasa dirinya besar karena jabatan, kaya karena harta, atau berpengaruh karena kekuasaan. Sebab pada akhirnya, yang diwariskan bukan gelar, melainkan manfaat.
Penyelenggara, G. Indra Damiath, mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dan menjadikan haul sebagai momentum muhasabah bersama.
"𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒖𝒎𝒖𝒓, 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒊𝒃𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒏𝒂𝒎𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒎𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒔𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒂𝒅𝒂," 𝒖𝒄𝒂𝒑𝒏𝒚𝒂.
Haul Abah Idam menjadi pengingat bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kursi kekuasaan. Ada orang-orang yang tidak pernah menjadi pejabat, tetapi doanya terus disebut. Ada yang tidak memiliki istana, tetapi makamnya tak pernah sepi dari peziarah.
Ia menambahkan bahwa keteladanan ulama merupakan fondasi moral yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang berakhlak, rukun, dan saling menghormati di tengah berbagai tantangan zaman.
"𝑯𝒂𝒖𝒍 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏. 𝑴𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒅𝒐𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒍𝒂𝒕𝒖𝒓𝒂𝒉𝒎𝒊, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒘𝒂𝒓𝒊𝒔𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒖𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒃𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒏𝒚𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒊𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒌𝒘𝒂𝒉, 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏 𝒖𝒎𝒂𝒕. 𝑺𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒈𝒊𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒊𝒌𝒉𝒕𝒊𝒂𝒓 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊-𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒌𝒆𝒂𝒈𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒏𝒈𝒔𝒂𝒂𝒏," 𝒑𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒔𝒏𝒚𝒂.
Di saat masyarakat membutuhkan teladan, peringatan Haul ke-25 KH. Gusti Dimyati Rahman diharapkan menjadi seruan moral agar generasi hari ini tidak kehilangan arah: bahwa yang kekal bukan kekuasaan, melainkan pengabdian, bukan popularitas, melainkan keberkahan. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌)
