Iklan

Infrastruktur Terabaikan, Pelajar Concong Menempuh Sekolah di Jalan Rawan Ambruk. Warga: "Demi Sekolah, Mereka Harus Melewati Jalan Kayu Lapuk Setiap Hari".

Jumat, 30 Januari 2026, 13.36 WIB Last Updated 2026-01-30T06:36:47Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Gardamedia.co.id, Concong, Inhil — Potret buram pembangunan infrastruktur  kembali terlihat di Kabupaten Indragiri Hilir. Jalan menuju SMA Negeri 1 Concong yang berada di Jalan Rumah Ramah Bencana, RT 018 RW 008, Kelurahan Concong Luar, Kecamatan Concong, kini berada dalam kondisi rusak parah, rapuh, dan sangat membahayakan, namun hingga kini terkesan dibiarkan tanpa penanganan serius.


Jalan berupa jembatan kayu tersebut tampak lapuk, berlubang, papan patah, bergeser, bahkan nyaris ambruk. Ironisnya, akses ini merupakan satu-satunya jalur utama yang setiap hari dilalui pelajar untuk menempuh pendidikan. Di bawah jalan, air dan lumpur menganga, siap menjadi ancaman nyata bila papan penyangga runtuh sewaktu-waktu.


Kondisi ini bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi sudah masuk kategori ancaman keselamatan. Setiap pagi dan sore, para siswa dipaksa mempertaruhkan nyawa demi sampai ke sekolah. Pertanyaan mendasar pun muncul, "di mana peran negara ketika anak-anak harus bersekolah di atas jalan yang nyaris roboh..?".


Sejumlah warga menyebut kerusakan jalan ini telah berlangsung lama. Namun keluhan dan harapan masyarakat seolah tak pernah benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan.


“Kalau sudah ada yang jatuh atau luka baru diperbaiki, itu namanya lalai. Ini bukan jalan kebun, ini jalan menuju sekolah,” ujar AR, seorang warga dengan nada kesal.


Lebih ironis lagi, jalan ini berada di kawasan bernama “Jalan Rumah Ramah Bencana”, sebuah nama yang seharusnya mencerminkan keamanan dan kesiapsiagaan. Faktanya, yang terlihat justru infrastruktur rawan bencana akibat kelalaian manusia dan kebijakan yang abai.


Orang tua siswa mengaku cemas setiap kali melepas anak mereka berangkat sekolah. Tak sedikit pelajar harus berjalan ekstra hati-hati, bahkan saling menunggu agar bisa saling membantu melewati bagian jalan yang rusak. Kondisi ini jelas bertolak belakang dengan semangat pemerataan pendidikan dan perlindungan anak yang kerap digaungkan pemerintah.


Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, khususnya dinas terkait, agar tidak menutup mata. Jalan menuju fasilitas pendidikan seharusnya menjadi prioritas mutlak, bukan menunggu viral, apalagi menunggu korban.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kerusakan jalan menuju SMA Negeri 1 Concong bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan cermin kegagalan tanggung jawab pemerintah dalam menjamin hak dasar anak untuk bersekolah dengan aman.


Hingga berita ini diterbitkan, belum terlihat adanya langkah konkret perbaikan di lokasi. Warga pun hanya bisa bertanya, "sampai kapan keselamatan pelajar harus dikorbankan oleh pembiaran..?". (Thonk)

Komentar

Tampilkan

Terkini