Iklan

Ing Antara Akar lan Angin Zaman, IKJR Tetep Ngadeg. Di Antara Akar dan Arus Zaman, IKJR Tetap Berdiri.

Senin, 20 April 2026, 22.09 WIB Last Updated 2026-04-20T15:09:51Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


Gardamedia.co.id, Indragiri Hilir, Riau, 20 April 2026 — Di tanah yang basah oleh jejak perantauan, di antara desir angin yang membawa kenangan dari pulau seberang, Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR) berdiri sebagai simpul, mengikat masa lalu dan masa kini dalam satu tarikan napas kebersamaan.


Ia bukan sekadar nama yang terucap dalam forum-forum resmi, melainkan denyut yang hidup di dada mereka yang merantau, yang membawa bahasa, adat, dan rasa dari tanah asalnya. Namun waktu terus berjalan, dan zaman tak pernah menunggu. Di sinilah IKJR diuji, "apakah ia tetap menjadi akar yang menguatkan, atau perlahan mengering ditelan arus perubahan".


Pengamat sosial dan budaya, Prayetno, memandang IKJR sebagai potensi yang belum sepenuhnya terbangunkan. Dalam pandangannya, organisasi ini ibarat ladang subur yang menanti tangan-tangan yang mau mengolahnya, bukan sekadar memandangnya dari kejauhan.


“IKJR harus menjadi organisasi yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan potensi yang dimiliki, IKJR bisa menjadi kekuatan besar dalam mendorong kesejahteraan dan mempererat persatuan,” ujarnya.


"Seperti angin yang mengingatkan daun agar tak lupa pada batangnya".


Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, generasi muda berdiri di persimpangan. Mereka mencari makna, mencari ruang, mencari alasan untuk tetap tinggal dalam lingkaran yang bernama IKJR. Jika ruang itu tak disediakan, maka waktu akan membawa mereka pergi, perlahan namun pasti.


Seorang sepuh Jawa, Ismano, menuturkan petuah yang mengalir seperti air yang tenang namun dalam.


"Urip iku kudu guyub rukun, aja nganti pedhot tali paseduluran. Wong Jawa sing manggon ing tanah perantauan kudu eling marang asal-usule, nanging uga kudu pinter nyawiji karo lingkungan. IKJR kuwi dudu mung jeneng, nanging kudu dadi papan kanggo nguatake paseduluran lan nggawa manfaat kanggo kabeh."


Sebuah pengingat bahwa hidup adalah tentang merawat hubungan, menjaga jati diri, dan tetap menyatu dengan lingkungan tanpa kehilangan arah.


Dan ia melanjutkan dengan nada yang lebih membumi.


"IKJR kudu dadi omah gedhe kanggo kabeh warga Jawa ing Riau. Aja mung dadi papan kumpul, nanging kudu bisa dadi panggonan kanggo golek solusi lan nguatake ekonomi bebarengan. Yen kita bisa guyub lan kompak, mesthi IKJR bakal luwih maju lan migunani kanggo kabeh."


Rumah, itulah yang dimaksud. Bukan bangunan, melainkan rasa, tempat di mana setiap orang merasa pulang, menemukan solusi, dan saling menguatkan.


IKJR, pada akhirnya, adalah perjalanan. Dia bukan sekadar wadah, tetapi cerita yang terus ditulis oleh mereka yang ada di dalamnya. 


Tentang bagaimana akar tetap tertanam, meski angin zaman terus berhembus kencang. Tentang bagaimana kebersamaan menjadi cahaya, di tengah dunia yang kerap berjalan sendiri-sendiri.


Dan di antara semua itu, satu pertanyaan akan selalu bergema, "apakah IKJR akan terus hidup sebagai makna, atau hanya tinggal sebagai nama". (THONK)

Komentar

Tampilkan

Terkini