BATAM — Ngenang bukan sekadar sebuah wilayah kepulauan dengan laut yang indah, perkampungan pesisir, dan aktivitas masyarakat nelayan. Di balik kehidupan sederhana masyarakatnya, tersimpan kekayaan budaya Melayu yang memiliki nilai sejarah dan tradisi yang patut dijaga.
Semangat itulah yang mendorong Lurah Ngenang, Hendri, menggagas sebuah program yang mengangkat Ngenang sebagai pusat budaya Melayu di Kota Batam, sekaligus diarahkan menjadi “Malay Heritage Island” atau pulau warisan budaya Melayu.
Salah satu gagasan yang menarik adalah “Ngenang Kampung Pantun”. Pantun tidak hanya dipandang sebagai rangkaian kata-kata indah, tetapi sebagai bagian dari identitas, adat, dan cara masyarakat Melayu menyampaikan nasihat serta nilai kehidupan.
Pergi ke Ngenang naik perahu,
Singgah sebentar melihat dermaga.
Kalau budaya terus dijaga selalu,
Melayu tetap hidup sepanjang masa.
Menghidupkan kembali identitas Melayu
Gagasan Ngenang Kampung Pantun diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menghidupkan tradisi Melayu melalui pantun, seni, adat istiadat, permainan tradisional, kuliner, sejarah kampung, hingga cerita-cerita masyarakat pesisir.
Dengan karakter Ngenang yang berada di kawasan kepulauan, kehidupan masyarakat yang dekat dengan laut, serta lingkungan kampung yang masih memiliki nuansa tradisional, gagasan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi destinasi budaya dan wisata berbasis masyarakat.
Bukan sekadar membangun tempat wisata, tetapi menjadikan masyarakat sebagai bagian utama dari pelestarian budaya.
“Malay Heritage Island” sebagai identitas Ngenang
Jika gagasan ini dapat diwujudkan secara terarah dan berkelanjutan, Ngenang berpeluang memiliki identitas yang kuat sebagai salah satu kawasan budaya Melayu di Kota Batam.
Konsep “Malay Heritage Island” dapat diarahkan pada pelestarian rumah dan lingkungan kampung, pertunjukan seni Melayu, festival pantun, sejarah masyarakat Ngenang, kuliner tradisional, kerajinan, wisata bahari, hingga kegiatan budaya yang melibatkan generasi muda.
Sebab, warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena disimpan. Budaya harus hidup, dipraktikkan, dikenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ke laut mencari ikan selar,
Perahu kecil dibawa berlayar.
Warisan Melayu janganlah pudar,
Jaga bersama agar tetap mekar.
Ngenang dan masa depan budaya Melayu Batam
Gagasan Lurah Ngenang Hendri ini tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, tokoh adat dan budaya, pemerintah daerah, pelaku wisata, hingga generasi muda.
Yang paling penting, pembangunan budaya harus tetap menempatkan masyarakat Ngenang sebagai pemilik dan pelaku utama.
Ngenang memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa sebuah kampung kepulauan tidak harus kehilangan jati dirinya ketika berkembang.
Justru sebaliknya, kemajuan dapat berjalan bersama dengan pelestarian adat dan budaya.
Ngenang Kampung Pantun bukan hanya tentang pantun. Ia adalah gagasan tentang menjaga identitas, menghidupkan warisan, membuka peluang ekonomi masyarakat, dan memperkenalkan wajah budaya Melayu Batam kepada dunia.
Kalau tuan pergi ke Ngenang,
Jangan lupa singgah sebentar.
Kalau budaya terus dikenang,
Melayu hidup sampai ke generasi mendatang.
Catatan: Istilah “Malay Heritage Island” di atas saya pertahankan sebagai gagasan/program yang disampaikan, bukan sebagai status resmi Ngenang, kecuali nantinya ditetapkan oleh pemerintah melalui keputusan atau program resmi.
(***)
