𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. Tembilahan, 21 Agustus 2026 — Ada sesuatu yang ganjil dalam sebuah forum yang mengaku hendak membicarakan nasib petani, "𝑲𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂 𝒋𝒖𝒔𝒕𝒓𝒖 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒆𝒏𝒕𝒊 𝒅𝒊 𝒂𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒊𝒏𝒕𝒖."
Diskusi publik mengenai persoalan perkelapaan di Kabupaten Indragiri Hilir, Jumat (21/8/2026), berakhir dengan langkah kaki Persatuan Wartawan Media Online Indonesia (PW MOI) Inhil meninggalkan ruangan. Bukan karena mereka kehabisan kata, melainkan karena merasa kata-kata mereka tidak menemukan ruang yang layak untuk disampaikan.
Ketua DPD PW MOI Inhil, Fitra Andriyan, menyayangkan sikap moderator yang dinilai membatasi kesempatan pihaknya untuk berbicara dalam forum yang digelar Aliansi Masyarakat Sipil Bersatu di salah satu kedai kopi di Tembilahan.
"𝑲𝒂𝒎𝒊 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒌𝒂𝒑 𝒎𝒐𝒅𝒆𝒓𝒂𝒕𝒐𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒓𝒐𝒇𝒆𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔𝒊 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕. 𝑨𝒑𝒂𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒂𝒊𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒆𝒏𝒕𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒔𝒊𝒃 𝒑𝒆𝒕𝒂𝒏𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒑𝒂," 𝒖𝒋𝒂𝒓 𝑭𝒊𝒕𝒓𝒂
PW MOI Inhil datang sebagai tamu undangan. Mereka membawa suara para petani kelapa. Suara tentang harga, tentang kehidupan, tentang ladang yang tidak selalu sebanding dengan keringat yang jatuh di atasnya. Namun, suara itu seolah berhenti sebelum sempat menjadi gema, maka mereka memilih berjalan keluar.
Bukan sekadar meninggalkan sebuah meja dan kursi, tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang mungkin lebih panjang daripada diskusi itu sendiri, "𝑼𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒇𝒐𝒓𝒖𝒎 𝒊𝒕𝒖 𝒅𝒊𝒔𝒆𝒅𝒊𝒂𝒌𝒂𝒏..?"
Fitra mengatakan, PW MOI Inhil selama ini turut menyuarakan persoalan yang dihadapi petani kelapa di Indragiri Hilir. Bersama Masyarakat Peduli Kelapa Nusantara (MPKN), mereka berupaya mendorong perhatian terhadap nasib petani dan masa depan komoditas kelapa.
Baginya, kelapa bukan sekadar buah yang jatuh dari pohon. Di balik sebutir kelapa ada tangan petani, ada dapur yang harus mengepul, ada anak-anak yang menunggu biaya sekolah, dan ada keluarga yang menggantungkan hari esok pada tanah yang mereka rawat. Karena itu, setiap pembicaraan tentang kelapa seharusnya tidak hanya mendengar suara yang lantang, tetapi juga suara yang selama ini nyaris tenggelam.
"𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒇𝒐𝒓𝒖𝒎 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒈𝒆𝒍𝒂𝒓 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒌-𝒉𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒕𝒂𝒏𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒑𝒂, 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒑𝒊𝒉𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕. 𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒋𝒖𝒔𝒕𝒓𝒖 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒖𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒆𝒏𝒕𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒕𝒂𝒏𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏," 𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑 𝑭𝒊𝒕𝒓𝒂.
Bukankah kebenaran kadang lahir dari percakapan yang saling bertentangan...? Dan bukankah solusi sering kali tumbuh dari keberanian untuk mendengarkan sesuatu yang tidak ingin kita dengar.
Fitra berharap peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bagi panitia dan moderator. Menurutnya, ruang publik semestinya menjadi tempat di mana setiap suara memperoleh kesempatan untuk hidup, meski tidak semuanya harus dipercaya. Sebab demokrasi bukanlah taman yang hanya menumbuhkan bunga-bunga yang seragam. Dia adalah hutan yang membiarkan setiap pohon tumbuh dengan bentuknya sendiri. Dan jika sebuah forum hanya menyisakan ruang bagi suara yang seirama, maka yang sedang dibangun bukanlah ruang dialog, melainkan ruang gema.
PW MOI Inhil menegaskan akan tetap menyuarakan persoalan petani kelapa dan mendorong agar kepentingan masyarakat tidak berhenti menjadi bahan diskusi di meja-meja kopi. Sebab bagi mereka, petani tidak membutuhkan suara yang sekadar terdengar, mereka membutuhkan suara yang benar-benar didengar. 𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌)
